Menyambut Tahun Baru Dengan Tradisi Hatsumoude

Di Jepang terdapat tradisi yang unik dalam rangka menyambut tahun baru. Tradisi itu disebut Hatsumoude. Hatsumoude adalah kunjungan pertama ke kuil Buddha atau Shinto pada awal tahun baru dalam rangka berdoa untuk memohon kedamaian di tahun yang baru. Hatsumoude mulai dilakukan selepas detik-detik pergantian tahun. Menjelang pergantian tahun, orang-orang biasanya sudah mengantri di kuil-kuil untuk membunyikan lonceng kuil dan menghaturkan doa mengawali tahun yang baru.

Tahun 2013 yang lalu, saya dan adik saya berkesempatan untuk berpartisipasi pada tradisi tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2012 kebetulan kami sedang berada di Osaka. Kami menginap di sebuah hostel murah di dekat Tsuitenkaku. Menjelang tengah malam, tamu-tamu hostel yang rata-rata orang asing sudah berkumpul di lobi hostel untuk pergi ke bar-bar sekitar untuk merayakan malam pergantian tahun. Namun tidak demikian bagi saya dan adik saya. Karena Desember di Jepang bertepatan dengan musim dingin, kami menunggu di hostel sampai sekitar pukul 10 malam sebelum meninggalkan hostel dan pergi menuju kuil Shinto. Meskipun kuilnya tidak terlalu jauh, kami harus naik kereta bawah tanah dari hostel kami untuk menuju ke kuil tersebut. Saya lupa nama kuilnya, tapi kuil tersebut di rekomendasikan oleh sebuah majalah lokal jika ingin melakukan hatsumoude.

 

dsc00263
Pintu gerbang Kuil

Kami tiba di kuil sekitar pukul 11 malam, dan ternyata antrian untuk masuk ke kuil sudah mengular sangat panjang hingga ke jalan. Suasana di kuil sudah mirip seperti festival. Banyak stand-stand yang menjual makanan dan berbagai macam barang. Meskipun suhu udara saat itu hampir mencapai nol derajat celcius, tidak menyurutkan niat orang-orang Jepang yang ingin melakukan Hatsumoude. Mungkin kami satu-satunya orang asing yang ikut-ikutan ngantri di depan kuil pada waktu itu.

 

dsc00272dsc00288Dibutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk kami sampai ke depan altar tempat berdoa. Selama menunggu 4 jam tersebut, kami bergantian mengantri. Jika saya masuk ke ruangan kantin yang hangat, adik saya yang mengantri. Demikian pula sebaliknya, ketika dia yang istirahat di kantin, saya yang mengantri. Di kantin, mereka menjual mie kuah hangat. Jualan mie kuah ini ternyata juga ada filosofinya jika dikaitkan dengan tahun baru. Katanya, orang Jepang makan mie di tahun baru supaya umur panjang, seperti mie yang dimakan. Ada-ada saja ya.

 

dsc00293
Hampir sampai

Selain tradisi makan mie, orang Jepang juga suka dengan ramalan. Di saat momen Hatsumode ini, selain berdoa, mereka juga mengambil ramalan (secara acak) yang tersedia di kuil-kuil. Kalau ramalannya baik, kertasnya bisa di bawa pulang. Tapi kalau isi ramalannya buruk, kertasnya diikat di pohon atau di tali yang disediakan supaya nasip buruk tidak ikut bersama kita. Saya dan adik saya dengan semangat ikut mengambil ramalan yang tersedia di kuil tersebut. Belakangan baru saya ketahui dari teman saya orang Jepang, kalau mengambil ramalan itu cukup sekali saja dalam 1 tahun. Padahal saya selalu mengambil ramalan setiap kali berkunjung ke kuil. Hahaha. Yah namanya juga turis.

dsc00297
Ramalan yang buruk diikat di tali-tali yang telah disediakan dan supaya nasib buruk tidak mengikuti kita

 

Setelah membunyikan lonceng dan ikut berdoa di kuil, kami kembali ke hostel kami. Saat itu hampir jam 3 pagi, dan untungnya subway khusus hari itu beroperasi sampai pagi (biasanya hanya sampai jam 10-11 malam).

 

dsc00339
Hatsumoude di Fushimi Inari
dsc00357
Jimat keberuntungan

Hatsumoude biasanya dilakukan sampai dengan 3 hari setelah tahun baru. Keesokan harinya kami pergi ke Kyoto dan mengunjungi beberapa kuil terkenal seperti Fushimi Inari dan Kiyomizu, masih terlihat antrian orang dimana-mana yang ingin berdoa di kuil.

 

 

dsc00397
Batu Cinta/Love Stone di Kuil Kiyomizu, Kyoto
dsc00399
Hatsumoude di Kuil Kiyomizu, Kyoto

Saya pikir tradisi ini baik sekali. Mengawali tahun yang baru dengan berdoa di kuil dalam ketenangan. Jauh dari hingar bingar panggung gembira, terompet dan kembang api pergantian tahun. Mungkin bisa coba dipraktekan di Indonesia di tempat ibadah masing-masing. Bagaimana dengan pembaca? Selamat tahun baru 2017 ya! Semoga di tahun yang baru ini, kita semua selalu dalam kesehatan, keselamatan dan keberkahan. Cheers! (npa).

 

Advertisements

Love traveling? Try volunteering!

Having a lot of spare time always gives me the idea of thinking what I actually should do when I have plenty of time to kill. It mostly happened when I am on break with literally nothing to do. One day, after I finished my master study, again I thought what I should have done to kill the time I had. Then I got enlightened: “Why don’t I just volunteer?” while my classmates were looking for a (new and better) job, interning, or even getting back to their old job.

Then I remembered that I have met some people during my previous travels – including a former neighbor in the foyer in Geneva who spent their time WWOOF*-ing. All of them went to a different country. So, I took it also as an opportunity to travel at an affordable price in exchange with lots of experience!

Then, why wwoof-ing?

There are of course plenty of volunteer options! What attracts me to wwoof-ing is the part where I can learn about organic farming. Despite my recurring problems in keeping my plants alive, at least I would like to learn appreciating the work of farmers.  It has also been quite popular for people to consume healthier options of foods or even grow them in our very own garden! Also, it does not necessarily relate to plants, some hosts are livestock farmers, guest-house owners or sanctuary managers!

Where to wwoof?

WWOOF basically connects farmers, gardeners and alike to volunteer  — called “wwoofer”, who would like to learn about organic farm. Many countries have wwoof network in it. At first, I wanted to go to Bali as they have their own method in growing rice. However, I changed my mind and went to Thailand instead. I mean….Thailand is only a short distance from Jakarta. I could then travel to Indochina after the volunteer was done.

My part of vegetable garden to water
My part of vegetable garden to water

The next thing I knew was I paid a good EUR 45 to be able to access the database and booked my ticket to Bangkok. A few hours after looking around, I found Pom & U, a sweet couple who have organic rice field and organic garden in Suphanburi.

What did you get in return?

 

Le squad
Le squad

In exchange with the voluntary work, the host provides us with three meals a day, accommodation and lots of knowledge! In my case, I had the opportunity to stay in a traditional Thai house by the river in Suphanburi. Pom cooked lunch and dinner for us. Sometimes we had special breakfast too. Fruits are always there, and I have always loved them as they are refreshing.

img_9422

Never thought steamed fish with herbs from the garden could be so yumm!
Never thought steamed fish with herbs from the garden could be so yumm!
This is it! Sautee water lilies a la Pom!
This is it! Sautee water lilies a la Pom!

img_9522

Our lovely chef, farmer, host lady!
Our lovely chef, farmer, host lady!

Pom & U also provided a room which I shared with Anniek, an amazing wwoofer from the Netherlands! Often, we exchanged recipes (well…. I got recipes but I forgot giving any, unfortunately).

How was the experience?

It was a m a z i n g!

Herbs.
Herbs.
Rosella -- hybiscus
Rosella — hybiscus
Just found out it can be eaten!
Just found out it can be eaten!
I am pretty sure it's kale. But maybe it's cabbage? o_0
I am pretty sure it’s kale. But maybe it’s cabbage? o_0
Long bean
Long bean

Pom & U have paddy fields, vegetable garden, a pond, and a couple of chickens, four cats (whose name I kept on pronouncing wrongly), and a dog named Mam. As the house is facing the river, they also have a small boat to paddle to the (not so-close) market.

The rice was just harvested by the previous wwoofers. Hence, the main work required during my arrival was to “water” and help maintain vegetable garden twice a day – depending on the humidity of the soil. Then I thought to myself, “How hard could it be?”

I took back what I said immediately when I started watering. While it is a garden for their consumption alone, it is pretty big to be watered manually. It would have been easy had the water hoses had not kept on disconnecting. Due to the size of the garden, we need to connect several hoses altogether. At the time, I understood why Pom told me to bring a friend to volunteer when I made inquiry!

Anniek and I divided the watering work. Her jurisdiction was the back yard garden – including a pond, while mine was the one facing the river. Anniek worked really really well and hard! She’s also like one of the kindest persons that I ever met! She would help me ensure my water hose connection did not break whenever she finished her work before me.

Is that all?

Of course NOT! On our spare time, we (or I?) would be helping Pom (or Anniek) baking cakes in the kitchen. As I was the least talented in cooking, I voluntarily washed the dishes or made the table. xD

MY bread pudding! xD
MY bread pudding! xD
Anniek's carrot cake and cream cheese with a hint of lemon. Lekker!
Anniek’s carrot cake and cream cheese with a hint of lemon. Lekker!
Caramel Pear Tart!
Pom’s Caramel Pear Tart!
Anniek's specialty: Dutch pancake for breakfast.
Anniek’s specialty: Dutch pancake for breakfast.
Pom's pumpkin and custard. The pumpkin was fresh from the garden and it tasted great!
Pom’s pumpkin and custard. The pumpkin was fresh from the garden and it tasted great!

We also prepared medium to plant seedlings. We had to make sure that the dirt was fertile and moist enough. When the medium was ready, we planted corn and lettuce seeds. I felt so satisfied when I saw the sprout after few days!

Planting the seeds.
Planting the seeds.
Look! They sprout!
Look! They sprout!

Another time, Pom taught us to make fertilizer balls. We had to mix several components including dirt, fermented organic water, banana tree trunks and chicken manure. Knowing the ingredients, you would understand how nice it smelled! Pom told us that the smell would stay on our hands for several days. Never had I become so obsessed with washing hands before then!

Mix it! Mix it hard!
Mix it! Mix it hard!
Fertilizer balls: making you hands smell since no time!
Fertilizer balls: making you hands smell since no time! In Picture, Mam the dog who had to make sure he participated and was counted to be a part of our daily life. 😀

Other than that, I also learned how Pom & U had minimum waste at their home! They used organic waste to be fermented as fertilizer.

My favorite cat -- he loved sitting on my lap. Such a privilege!
My favorite cat — he loved sitting on my lap. Such a privilege!
Sunset by the river
Sunset by the river
Another sunset when watering...
Another sunset when watering…

What I really enjoyed the most would be harvesting the vegetables (as it took me walking without watering xD), staring at the sunset when I (almost) finished watering and playing (well, it was mostly chilling) with the cats! Sometimes, we also accompanied Pom to the traditional market. It is an interesting one for what were sold were something that I never see in the traditional market close to my home in Jakarta. It is even more fun when Pom bought us mango sticky rice and lots of fruits! *drooling*

Local delicacy: (raw) shrimp for apetizer!
Local delicacy: (raw) shrimp for apetizer!
Mango sticky rice to die for
Mango sticky rice to die for!

 

Really? No more?

Anniek and I also managed to paddle Pom & U’s boat along the river (where Anniek did most of the paddling – sorry!). Our destination was the market as Pom told us. Sadly, we never made it to the market as the river was full of plants hindering us to paddle through. Getting stuck and tired, we decided to go against the river’s flow to get back home. If I were to paddle alone, I would have been still moving the boat in circle.

Paddling master!
Paddling master!
Fresh water fisherman
Fresh water fisherman

The next day, we went to the temple close by. While it was closer if we paddle, we thought it would not be a good idea to paddle considering our paddling experience the day before!

A part of the temple
A part of the temple
Anniek's specialty again. I forgot the name, though. Mousaka? Zaksouka??
Anniek’s specialty again. I forgot the name, though. Mousaka? Zaksouka??
Steam boat for dinner. :))
Steam boat for dinner. :))

When Pom & U were not home, we took over the kitchen and cooked or baked something fancy (at least that was what I thought) as a treat after watering! Also, we treated ourselves with lots and lots and lots of iced coffee to bear the heat!

 

*WWOOF : World-Wide Opportunities on Organic Farms

 

Lesson learned: A Simple Guide to Chiang Mai’s Lantern Festival

If I did not write this article, I would not be realized how time flies! It is already September though it feels as if 2016’s New Year’s Eve were just yesterday. However, there is this one thing that we can long to see as the closer we get to the end of the year. It is called: Yi Peng Sansai!

Float lanterns, float!
Float lanterns, float!

Yi Peng is actually a religious ceremony for paying homage to Buddha. It occurs at the same time as Loy Krathong. The two events involve lights. For Loy Krathong, people will release lotus-shaped vessels made to bodies of water for good luck.  Meanwhile, for Yi Peng, people release fired paper lanterns to the sky. So, you can already imagine how amazing it is!

IMG_3640

Yi Peng is mostly common in northern part of Thailand. In Chiang Mai, it is breathtakingly festive! The exact date could be tricky as it is announced only a week before. However, normally it is held in November each year, depending on the full moon phase. The mass lantern release can be seen in two events. The free and crowded one is usually held in the yard of Mae Jo University of Chiang Mai. The other event will cost you around USD100. While I am not sure where the paid one is held, I am pretty sure that it will be more convenient as the committee does have a quota of people.

I attended the (free) festival two years ago (and I’d still like to go again! Anyone?). While the reason why I attended the festival was very childish, it was very memorable. Even now, the images are still vividly running in my head. If I ever go back again, these are the points I will take into account:

  1. Make sure of the date

    Guidance of the event
    Guidance of the event

Again, this is the trickiest part. You must be proactive in looking for the date! This year, this site says that Yi Peng is to be held from 13 to 15 November 2016. However, it is held only on one of those dates. For the rest of the dates, you could either float your own lantern at the square of Chiang Mai or do other activities available around the city. It would be best if you could stay for the whole week so that there is not even a chance for you to miss it!

  1. Book your means of transportation to Chiang Mai early, really!
Bus Ticket from Don Mueang to Mo Chit
Bus Ticket from Don Mueang to Mo Chit

Yi Peng is a big festival attended by so many people. It means, bus providers are extremely busy by this period of time.

if not…be ready for the consequences!

I remember that my train ticket to Chiang Mai from Bangkok got cancelled because some parts of the tracks were being repaired. However, had I gone with such train, I would not have made it to the festival because I only spared a day before the festival. It was a wrong move because I arrived in Bangkok. I found out the exact date right only few days before I left for Bangkok. Later, I tried to book overnight bus but all online tickets were sold! Consequently, I went directly to the Mo Chit bus terminal right after I landed just to buy the bus tickets.

Being a cheapskate, I did not want to lose the opportunity to use the room at the hotel that I had booked. I managed to have a name and take a shower. However, drama begins at the evening when Bangkok’s traffic jam was so cruel that it did not let my taxi go through. I arrived at the station after the bus left. I was furious and sad. But few minutes later, one of the station’s officer approached me and told to get on one of the buses. In the middle of the journey, the driver told us to get off and changed to another bus. I did not have any clue where the bus was heading to as there was no sign that its destination was Chiang Mai. I could not sleep because of it. During a stop, I asked where the bus heading to. Luckily, one of the Thai passengers explained to me that it headed to Chiang Mai. The written destination was different because it was additional bus operating during high season. 😀

  1. Stay somewhere close

I managed to book a room at a residence close to Maejo University. Hence, the university is within walking-distance. If not, you could also go with a songthaew (it is like a van with specific route, in Indonesia it is known as angkot) or tuk-tuk (tricycle) to reach the university. If you have a big budget for this, you can also hire a car or taxi which waits for you.

Staying close to the venue is also useful as it would be difficult to get a means of (public) transportation. It was and will be very crowded after the event. It was very difficult even to walk.

  1. Come early

    Space to choose. :D
    Space to choose. 😀

People are welcome only until 5 pm. If you come early, you can choose where you want to sit. Do note that there are many tourist agencies arranging tour and taking plenty of space for their guests.

  1. Take plenty of water and snacks

    Sunny side up, anyone?
    Sunny side up, anyone?

Seriously, you could use the waiting time for picnic. It can be really hot during the day and the event itself will finish late so you may want to have something to eat. There will be a small bazaar outside the venue. However, once the gate is closed, you can no longer access the bazaar as it is located exactly outside the gate.

Fresh pressed orange juice!
Fresh pressed orange juice!

If you managed to go to the bazaar, though, you could taste varieties of Thai snacks. My personnal favorite would be their pressed orange juice which is very refreshing!

  1. Don’t bring lanterns bought outside the venue
    The kits
    The kits

    Huge lantern is fired!
    Huge lantern is fired!

Though the event itself is free, the lantern is not. I paid around THB 250 for a lantern from the committee. We cannot bring lanterns from outside though they are cheaper. Maybe this is how they raise their fund. But it is okay, I think. The price is also not so bad as the lantern can be for 4-6 persons.

  1. Wear something polite yet comfortable

I understand that the climate could be very warm, but please remember that this festival is a part of religious ceremonies. Pay some respect by not wearing tank tops or see-through clothes. This way, you are helping yourself from wasting your time and money as there will be officers at the gate reminding how you should dress.

  1. Bring a sarong as substitute of picnic mat

    Our mat and snacks!
    Our mat and snacks!

Whenever I travel, I always bring my Balinese sarong. It is light and useful, especially as I can use it as a mat. People who do not have mats can also use newspapers. Or….you can also sit directly on the grass if you do not mind getting a bit of dirt on your pants.

  1. Don’t go alone

As much as I encourage people to travel solo, I would really recommend you to go with your friends. Even better, with your significant other as it is such a romantic festival. If you are planning to propose your SO, the floating lanterns can make a mesmerizing background building the right moment to say yes!

...and at last I see the lights!
…and at last I see the lights!

Lastly, enjoy the view and experience! Do it at least once in a lifetime!

 

Made in China (Bagian 6) : Beijing dan The Great Wall of China

Rupanya ada banyak sekali objek wisata yang wajib untuk dikunjungi ketika berada di Beijing. Sayangnya pada waktu itu kami hanya punya waktu satu setengah hari sebelum harus berpindah lagi ke kota lain. Pagi hari pertama kami di Beijing, kami menargetkan dua tempat untuk di kunjungi, the Forbidden City dan the Great Wall of China (sisi Badaling). Untuk pergi ke Forbidden City kami menggunakan subway dari stasiun Pudong dan berhenti di stasiun Tiananmen East (atau Tiananmen West) dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Tiananmen Square.

DSC02341
Mausoleum Mao Zedong

Forbidden City ini letaknya tepat di belakang Tiananmen Square, jadi kami sempat masuk ke mausoleum Mao Zedong terlebih dahulu sebelum ke Forbidden City. Untuk masuk ke mausoleum kami harus melalui security check-in. Di dalam mausoleum kami bisa melihat antrian panjang turis lokal yang ingin melihat jasad Mao Zedong yang disemayamkan di tempat ini. Karena antriannya cukup panjang, kami memutuskan untuk tidak ikut mengantri dan beranjak langsung ke Forbidden City.

Tiket masuk ke Forbidden City adalah 40 yuan dan bisa sewa audio guide juga. Karena pengalaman yang kurang begitu menyenangkan di museum Terra-cotta (baca: Made in China (Bagian 2) – Terra Cotta Warriors and Horses Museum) kami agak kapok menggunakan jasa tour guide. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa audio guide supaya agak paham di dalam Forbidden City nanti. Ternyata ada audio guide berbahasa Indonesianya juga lho! Keren! Pastinya kami sewa audio guide yang berbahasa Indonesia ini. Audio guide-nya bekerja secara otomatis tergantung di sisi mana Forbidden City kita berada.

Begitu masuk ke dalam, saya takjub dengan betapa luasnya kompleks istana Forbidden City ini. Tadi di lapangan Tiananmen dan mausoleum Mao Zedong juga ukurannya giant! (Museum Terra-Cotta dan Maosoleum Qin Shi Huang juga gigantic sih) membuat saya berpikir mungkin untuk mengakomodasi jumlah penduduk China yang juga besar kali ya.

DSC02369Forbidden City adalah kompleks istana di era 4 kaisar selama dinasti Qing dan dinasti Ming berkuasa. Kompleks istana ini adalah inspirasi untuk set film “Curse of the Golden Flower” lho! Ada banyak fakta menarik tentang kompleks istana ini. Misalnya, kenapa disebut Forbidden City?! Rupanya jaman dahulu, rakyat biasa tidak diperbolehkan masuk ke kompleks istana ini tanpa izin khusus dari Kaisar makanya disebut Purple Forbidden City atau Forbidden City. Ada simbol khusus yang dibuat untuk kaisar dan permaisuri dimana kaisar dilambangkan dengan binatang Naga dan Permaisuri dilambangkan dengan binatang burung Phoenix.

Setelah puas keliling Forbidden City, tak terasa sudah tengah hari maka kami memutuskan untuk makan siang di restoran lokal sebelum melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah the Great Wall of China. Untuk pergi ke the Great Wall of China, ada dua jenis transportasi umum yang bisa dipilih, bis dan kereta. Kami memutuskan untuk naik bis, karena menurut hasil riset yang saya lakukan sebelumnya, bis menuju Great Wall akan berhenti di dekat pintu masuk ke Great Wall, sementara kalau naik kereta, masih harus berjalan lagi cukup jauh karena letak stasiun keretanya.

DSC02431
Peta seadanya yang sangat membantu kami dalam menemukan jalan

Menurut sumber yang saya temukan di internet, dari Beijing ke Great Wall akan memakan waktu satu setengah jam (ternyata 3 jam lebih kami ga nyampe2!). Setelah makan siang, dengan berbekal peta yang kami foto di pintu keluar Forbidden City, kami mencari jalan menuju stasiun bis. Sebagai informasi, di sini berbagai macam social media kekinian diblok oleh pemerintah, yahoo, facebook, bahkan google. Sebagian besar website yang dapat diakses berbahasa mandarin. Karena kami berdua tidak bisa Bahasa mandarin, jadi meskipun di hotel ada wifi, kami tetap sulit mengakses informasi. Satu-satunya search engine berbahasa inggris yang dapat kami akses pada waktu itu adalah Ask.com dan itu butut banget! Sebaiknya segala macam riset yang perlu dilakukan seperti gimana cara ke suatu tempat, makanan apa yang mau dimakan, dll, dilakukan sebelum sampai di sini.

Dari restoran tadi, kami naik subway dan turun di stasiun Jishuitan dari sini seharusnya sudah dekat dengan terminal bis Deshengmen. Bis yang kami mesti naiki adalah bis nomor 877 atau 919 tapi hati-hati. Banyak scam di sini. Ketika kami keluar dari stasiun subway dan berjalan menuju stasiun bis, banyak minibus/mini van dengan tempelan kertas sesuai nomor bis yang kami mesti naiki dan tulisan yang menyatakan jurusan Great Wall. JANGAN naik minibus/minivan ini. Kalian akan dicharge dengan harga yang jauh lebih mahal dari bis umum yang seharusnya.

Bis yang benar ada di dalam terminal Deshengmen. Sayangnya, nomornya gak keliatan dengan jelas karena ditulis dalam Bahasa Mandarin. Kami muter-muter seluruh terminal beberapa kali untuk mencari bis tersebut. Akhirnya kami berhenti pada antrian panjang orang lokal yang kami yakini akan menaiki bis jurusan Great Wall. Saya mencoba bertanya pada salah satu ibu-ibu di situ menggunakan buku panduan berbahasa mandarin yang kami bawa dari Jakarta. No use. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang saya bicarakan. Mungkin karena pelafalan saya yang kurang tepat. Akhirnya saya coba menunjukkan print out hasil riset tentang Great Wall yang kebetulan ada huruf kanjinya. Dia mengerti dan menunjukkan papan besar berisi jurusan yang tempat-tempat yang akan dilalui oleh bis. Saya cocokkan huruf kanji di papan dengan print out yang saya pegang, ternyata sama. Akhirnya kami naik bis tersebut dan berdoa mudah-mudahan bis ini benar menuju ke Great Wall. Kalau salah, wassalam deh!

Tidak berapa lama naik bis tersebut, kami terlelap. Sebangunnya dari tidur singkat di bis, saya mengecek jam tangan saya dan waktu sudah berlalu sekitar 2 jam sejak kami naik bis ini. Kenapa belum sampai ya? Padahal menurut informasi yang saya dapat dari internet, hanya memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Hampir 3 jam, akhirnya kami sampai di suatu halte dimana semua penumpang bis turun. Otomatis kami pun ikut turun. Saya bingung mendeskripsikan halte tempat kami turun itu seperti apa. Terdapat gedung yang sepertinya sudah tutup dan depannya ada laman parkir dengan beberapa mobil terparkir. Tidak ada apa-apa selain halte bis, gedung kosong dan parkiran. Tadinya saya pikir ini pintu masuk ke Great Wall, tapi gak mungkin! Soalnya ga terlihat Great Wall sama sekali di sekitar tempat tersebut. Great Wall kan tembok terpanjang di dunia, jadi mestinya mudah terlihat kalau kami berada di tempat yang benar. Hadeeuuhh ini dimana lagii… -_- mana udah sore, ga ngerti ada di mana.

Kami mutar-mutar di tempat tersebut beberapa kali mencari petunjuk kami berada dimana. Beberapa pemuda menghampiri kami dan berbicara dalam Bahasa mandarin, bahkan ada yang sempat mengajak bicara dengan Bahasa inggris tapi tidak saya gubris karena saya takut kena scam lagi. Beberapa orang terlihat menaiki sebuah bis yang baru datang. Termasuk salah seorang pemuda yang tadi mengajak kami bicara dalam Bahasa inggris. Akhirnya saya bertanya pada dia karena sepertinya dia harapan terakhir kami untuk tempat bertanya. Rupanya dia mahasiswa s2 dari Uzbekistan Yang sedang kuliah di China. Tadi dia mengajak kami bicara juga karena ingin bertanya arah ke Great Wall. Yaampuunn! Maaf ya masnya saya udah su’udzon… habis dipikir tour guide scam yang kayak di Terrra Cotta.

Si mas ini bisa Bahasa mandarin juga, dan bilang bahwa bus ini menujur ke Great Wall yang letaknya masih sekitar 1,4 km lagi dari lokasi kami saat itu. Apakah bis yang kami tumpangi sebelumnya itu memang menuju Great Wall atau tidak kami tidak pernah tahu. Yang jelas meskipun kami nyasar, rupanya tidak nyasar-nyasar amat. Syukurlah…

Sekitar 7 menit kemudian sampailah kami di halte bis Great Wall. Kami berterima kasih dan mengucapkan selamat tinggal kepada mas tadi. Sekarang kami mesti berpacu dengan waktu karena kami sampai di Great Wall-nya udah sore sekali dan nampaknya sebentar lagi tutup. Kami berjalan ke arah stasiun kereta gantung supaya bisa diantar menuju spot yang direkomendasikan di internet yang terletak agak tinggi posisinya. Dari spot tersebut, kami bisa berjalan kaki untuk ke pintu keluar.

Ketika sampai di stasiun kereta gantung, stasiunnya sudah tutup!! Kami sungguh kecewa mengingat betapa susahnya untuk sampai ke tempat ini. Akhirnya kami berjalan kembali ke arah halte bis tempat kami datang tadi. Menurut petugas di stasiun kereta gantung, Great Wall-nya sendiri masih buka, hanya kereta gantungnya saja yang sudah tutup waktu itu. Jadi kalau ada pengunjung yang mau ke Great Wall, harus lewat pintu depan dengan berjalan kaki.

Tidak mau pulang dengan sia-sia, akhirnya kami berjalan kaki menuju pintu masuk Great Wall yang rupanya cukup jauh jaraknya dari halte bis. (Ga ada yang deket di China ini men!). seperti motto pemadam kebakaran “pantang pulang sebelum padam!” pantang menyerah sampai titik darah penghabisan! Sesampainya di pintu masuk, ternyata masih buka! Meskipun tinggal setengah jam lagi!

Akhirnya kami beli tiket dan menapakkan kaki di tembok legendaris tersebut! Horee!

Saya ingat betapa dingin dan angin berhembus cukup kencang sore itu dari atas Great Wall tempat kami mengambil foto. Kami mengambil sisi tembok yang sepi supaya mendapat angle foto yang lebih baik dan tidak perlu berdesakan dengan pengunjung yang lain. Rupanya ada alasan kenapa tidak banyak pengunjung yang pergi ke sisi tembok yang kami tuju. Sisi tembok yang kami tuju tidak terkena sinar matahari sore, sehingga jauh lebih dingin. Temboknya juga menanjak cukup curam tinggi ke atas, sehingga angin berhembus lebih kencang. Tapi kami cukup puas dengan pemandangan dari atas tembok. Kami juga bisa berfoto tanpa ada pengunjung lain yang ikut photo bomb di foto kami. Catatan kami untuk teman-teman traveler lain yang akan mengunjungi Great Wall, siapkan stamina dengan baik karena mengunjungi Great Wall membutuhkan banyak energi karena kita dituntut untuk banyak berjalan kaki.

DSC02451
Lihat betapa cerah dan hangat kelihatannya sisi Great Wall sebelah sana
DSC02470
Lihat betapa curamnya sisi Great Wall yang kami pilih (^_^)a

DSC02460DSC02493

DSC02475
Dapat pemandangan bagus dari sisi Great Wall yang kami pilih

Sepulangnya dari Great Wall, kami memutuskan untuk menggunakan kereta api untuk kembali ke kota Beijing. Antrian tiket kereta cukup panjang namun semua orang mengantri dengan tertib sehingga tidak menjadi masalah. Tidak lama kami mengantri, kami sudah bisa duduk nyaman di kereta bagus yang akan membawa kami direct ke downtown Beijing. Rupanya menggunakan kereta jauh lebih mudah dan tidak seribet dan membingungkan seperti naik bis! Meskipun harus jalan sekitar 1,4 km dari stasiun kereta untuk menuju Great Wall, naik kereta lebih praktis untuk traveler yang terkendala Bahasa seperti kami. Perjalanan kembali ke Beijing memakan waktu sekitar 1 jam tanpa drama seperti waktu naik bis sebelumnya. Kami sudah sampai kembali di hotel kami sebelum jam 9 malam dan bisa beristirahat untuk hari selanjutnya.

Hari terakhir kami di Beijing hanya setengah hari karena kami harus naik pesawat menuju kota selanjutnya. Ada banyak tempat wisata di Beijing, tapi kami hanya punya sangat sedikit waktu hari itu. Sebetulnya saya ingin melihat Temple of Heaven, tapi saya juga ingin melihat Summer Palace. Duh ribet ya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Summer Palace yang letaknya lebih jauh dari hotel kami, dengan harapan masih sempat untuk mengunjungi Temple of Heaven sebelum kembali ke hotel lalu cus ke Bandara.

Maka pergilah kami menuju Summer Palace menggunakan subway dari stasiun Pudong. Ternyata Summer Palace itu besaaaar ya saudara-saudara! Hahaha. Terdiri dari kompleks kerajaaan yang super luas lengkap dengan istana, menara, danau, dan taman di sana-sini.

DSC02518
Pintu Masuk Summer Palace

 

 

DSC02549

 

 

DSC02550Yang saya ingat dari kunjungan kami di kompleks istana ini adalah kami terkesima dengan keindahan tempat ini dan berjalan berputar-putar tak tentu arah sampai kami tiba di pintu masuk/keluar yang berbeda dari tempat kami datang. Karena hari sudah siang, kami tidak sempat mengunjungi Temple of Heaven dan langsung kembali ke hotel untuk check-out dan menuju ke Bandara International Ibukota Beijing (Beijing Capital International Airport). Untuk pergi ke Bandara ini dari kota Beijing, cukup naik kereta khusus dari stasiun Beijing Realway kira-kira satu jam perjalanan.

Demikianlah petualangan kami di kota Beijing dan Great Wall of China. Selanjutnya, kami menuju wilayah utara China, kota Harbin, untuk melihat festival es. Stay tuned! (npa)

 

 

 

 

 

 

Made in China (Bagian 5) : Balada Mencari Alamat

Memilih penerbangan malam untuk ke Beijing padahal kami terkendala bahasa dan ketiadaan koneksi internet adalah kesahalan saya pada malam itu. Kami bertolak dari Shanghai menuju ke Beijing sekitar pukul 7 malam dan tiba di Beijing pada pukul 8.45 malam. Untuk sampai ke hotel kami yang terletak di downtown Beijing, menurut sumber informasi yang saya temukan di internet, kami hanya perlu naik bis (line 1) sekali dan turun di terminal terakhir lalu berjalan kaki ke hotel. Sayangnya, saya miss terhadap fakta bahwa ada 2 bandar udara di kota ini. Hasil riset saya terkait bis line 1 yang harus kami tumpangi ternyata dapat dinaiki jika kami mendarat di Beijing International Airport. Masalahnya pesawat kami mendarat di Beijing Nanyuan Airport.

Udara dingin dan kami tidak tahu moda transportasi apa yang harus kami naiki. Taksi bukan opsi yang menarik karena jalanan sudah gelap dan kami tidak bisa berkomunikasi dengan supir taksi. Kami tidak tahu seberapa jauh jarak Beijing Nanyuan Airport dengan hotel kami. Beruntung ada seorang pemuda lokal yang kelihatan terpelajar sedang membantu serombongan traveler yang juga mencari jalan menuju hotel mereka. Dia membantu mencarikan alternatif kendaraan ke hotel kami menggunakan smartphone-nya. Karena opsi kendaran di bandara tersebut hanya bis dan taksi, dia menyarankan kami naik bis sampai halte tertentu (saya lupa nama haltenya) dan sambung naik subway. Menurut pemuda tersebut, perjalanan naik bis dari bandara ke halte bis “tersebut” memakan waktu sekitar 1 jam. Karena saya lupa nama haltenya, “kira-kira” satu jam setelah bis melaju dari bandara, kami turun dari bis. Waktu itu sudah hampir jam 10 malam. Kami turun di daerah yang cukup sepi dari orang yang lalu lalang. Sesekali mobil melaju kencang di jalan raya di samping halte bis tempat kami turun. Dari situ kami bingung harus berjalan ke arah mana. Tidak ada petunjuk jalan maupun orang lewat yang bisa kami tanyai. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil berharap menemukan petunjuk jalan menuju stasiun subway. Setelah berjalan kira-kira 500 meter, kami menemukan palang jalan dengan simbol kereta menuju ke arah yang berlawanan. Ya ampun! Saya memang ahlinya kalau untuk urusan nyasar. Kami kemudian putar balik dan berjalan sesuai arah yang ditunjukkan oleh palang tersebut. Ternyata stasiun subwaynya tidak terlalu jauh dari halte bis tempat kami turun tadi. Namun tentunya untuk orang yang tidak tahu jalan,  tidak punya internet, dan tidak bisa bahasa mandarin, ini bisa menjadi masalah besar.

Singkat cerita akhirnya kami berhasil menaiki kereta subway di Beijing. Menurut pemuda tersebut, kami harus turun di stasiun Dongsi dan berjalan kaki dari stasiun tersebut ke hotel kami. Namun, 1 stasiun sebelum Dongsi saya melihat nama stasiun yang sesuai dengan deskripsi petunjuk jalan yang saya temukan sebelumnya di internet sewaktu mencari informasi tentang cara menuju hotel saya di Beijing. Saya menjadi ragu dengan arahan dari pemuda tadi. Akhirnya saya memutuskan untuk turun di stasiun ini, satu stasiun sebelum Dongsi. Yang kemudian menjadi kesalahan saya yang lain.

Dari sini kami tidak tahu harus ke mana. Saat itu sudah pukul setengah 11 malam. Di kertas booking hotel yang saya print, terdapat alamat hotel dalam huruf alfabet dan huruf mandarin. Berbekal alamat dalam huruf mandarin dan buku percakapan bahasa mandarin yang kami bawa dari Jakarta, kami bertanya pada siapapun yang kami temui sepanjang jalan. We got no option. It was almost midnight and it was freezing cold almost 0 degree C!

Seorang gadis dan bapak-bapak lokal yang kami temui tepat di depan stasiun subway memberikan petunjuk arah dan dari arahannya mereka terlihat seperti tidak yakin. Tapi kami tidak punya pilihan, jadi kami berjalan ke arah yang mereka tunjukkan. Kami berjalan hanya lurus saja. Di sisi kanan kami jalan besar dimana mobil lalu lalang sesekali karena sudah cukup larut. Saya tidak tahu berada di sebelah mananya Beijing pada waktu itu, tapi tidak terlihat banyak gedung tinggi, hanya beberapa toko-toko tua di pinggir jalan. Kami berjalan dan berjalan sampai hampir tengah malam. Jalanan makin sepi dengan beberapa orang yang terlihat masih berjalan di trotoar yang sedang kami susuri. Di suatu persimpangan jalan, saya mulai frustasi mencari hotel kami dan ingin naik taksi saja rasanya. Tapi kata adik saya, sebaiknya kita coba tanya orang lagi perihal lokasi hotel kita. Siapa tahu sudah dekat.

Di dekat persimpangan jalan tempat kami berdiri, ada pos satpam yang sepertinya ada orangnya. Saya menghampiri pos tersebut dan ternyata penjaganya adalah seorang bapak-bapak tua. Dengan bahasa mandarin terbata-bata sambil menunjukkan alamat dalam bukti booking hotel yang saya print, saya mencoba bertanya pada bapak tersebut. Awalnya dia tidak mengerti, tapi lama-lama akhirnya dia paham juga. Dan sepertinya kali ini dia tahu alamat yang kami cari. Beruntung arah yang ditunjukkan oleh bapak-bapak itu tidak berlawanan arah dari jalan yang sudah kami lalui selama 1 jam terakhir ini. Artinya kami sudah berada di jalan yang benar, hanya saja hotelnya memang masih jauh.

Setelah berterima kasih pada bapak tersebut, kami kembali berjalan mencari hotel kami. Dalam persimpangan jalan selanjutnya yang kami lalui, kami menemukan stasiun DONGSI dan berbelok ke kiri dari stasiun tersebut. Setelah berjalan sekitar 15 menit dari stasiun Dongsi, akhirnya sampailah kami di Hotel 161. Astaga! Jadi memang seharusnya kami mengikuti saja saran pemuda yang kami temui di bandara tadi… Kalau saja saya tidak sok tahu dan turun di satu stasiun sebelum Dongsi, pasti kami sudah sampai daritadi! Tidak perlu nyasar selama 2 jam di malam gelap yang dingin itu….

16753746
Hotel 161*
16722310
Grand Entrance*
16721805
Cafe on the Second Floor*
16721200
Hotel room*

Anyway, kami bersyukur akhirnya sampai di hotel kami di Beijing. Akhirnya kami bisa beristirahat setelah malam yang panjang. Hotel kami ini budget hotel. Semalamnya cuma 200-ribuan rupiah untuk 1 kamar dengan twin bed. Hotelnya nyaman dan staff-nya pun ramah. Dan ternyata, hotel kami letaknya cukup strategis untuk menuju ke objek-objek wisata di Beijing! (npa)

*Photos are taken from the Hotel’s page in Booking(dot)com

 

 

[Sharing] Berburu Visa Jepang Multi-Entry

japan-multi-entry-visa
Contoh Visa Multi-Entry

Sejak pemerintah Jepang memberikan pengecualian visa (visa exemption) bagi pemegang paspor elektronik, kunjungan orang Indonesia ke Jepang terlihat melonjak! Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya jumlah pos foto atau check in di tempat di Jepang di timeline media sosial yang saya miliki.  Namun, mengingat harga e-paspor dua kali lipat harga paspor biasa, pasti banyak warga Indonesia yang berminat ke Jepang yang tetap harus melakukan permohonan visa, seperti saya.

Dengan pertimbangan efisiensi dan harga yang cukup murah, tidak ada salahnya mengajukan permohonan visa multi-entry sekalian.

Apa saja keuntungannya?

  1. Masa berlaku visa multi-entry selama 3-5 tahun. Jika ganti paspor paspor baru, visa tersebut dapat ditransfer ke paspor baru tanpa biaya!
  2. Masa tinggal 30 hari per kunjungan dibandingkan dengan 15 hari per kunjungan dengan visa exemption atau visa sekali masuk.
  3. Dapat mengunjungi Taiwan dengan visa Jepang berlaku sebagai pengecualian.

Menggiurkan bukan?

Walaupun masih harus melakukan permohonan visa, setidaknya proses aplikasi visa multi-entry nya dipermudah! Kriteria pemohon yang dapat mengajukan permohonan adalah:

  1. Pernah melakukan kunjungan singkat ke Jepang dalam 3 (tiga) tahun terakhir, dan memiliki kemampuan ekonomi yang cukup.
  2. Pernah melakukan kunjungan singkat ke Jepang dan beberapa kali kunjungan ke Negara-negara G7 (kecuali Jepang)
  3. Perorangan yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup
  4. Suami/ istri/ anak dari orang yang dimaksud dalam kriteria (C) yang berkewarganegaraan Indonesia, Vietnam, maupun Filipina.

Daftar rincian dokumen dan persyaratan yang diperlukan dapat dilihat di sini dan di sini. 😀

Karena luasnya criteria tersebut, saya memanfaatkan poin A dan Poin B. Lebih tepatnya, saya pernah melakukan kunjungan singkat ke Jepang di tahun 2012 dan 2013 serta pernah berkunjung ke beberapa negara G7* selain Jepang. 😀 Jika memang belum pernah, tapi memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, atau pasangan dari orang yang memenuhi yang berkemampuan ekonomi cukup, bisa juga mencoba peruntungan :D. Menurut petugas yang melayani saya saat mengajukan aplikasi, jika memang dianggap belum memenuhi criteria, Konsuler Jepang tetap dapat mempertimbangkan pemohon untuk memperoleh single-entry visa. Enaknya aplikasi visa Jepang adalah pembayaran yang dilakukan saat paspor diambil kembali. Jadi, biaya yang dibayar pun akan sesuai dengan jenis visa yang diterbitkan. 😀

Biaya multi-entry visa ini hanya Rp660.000 saja! Cuma setengah harga visa multi-entry Korea Selatan. Worth it deh!

Untuk persyaratan dokumennya sendiri, hanya ada tambahan dokumen berupa surat permohonan visa multi-entry. Surat ini berisikan motivasi dan alasan kita sebagai pemohon untuk meyakinkan Konsuler untuk memberikan visa multi-entry. Tidak ada format resmi yang disyaratkan. Saya sendiri menuliskan surat saya dalam bahasa Inggris. Kurang lebih isinya menyatakan bahwa saya telah memenuhi kriteria untuk mengajukan permohonan, serta alasan saya ingin mengunjungi Jepang berkali-kali karena kunjungan-kunjungan saya sebelumnya begitu membekas dalam memori saya. J

Saran saya adalah, baca persyaratan dan dokumen yang diminta dengan seksama. Jangan ada yang ter-le-wat. Jika memang ada dokumen yang tidak ada, misalnya surat keterangan kerja, buat surat pernyataan serta dokumen pendukung lain yang kira-kira dapat menjelaskan keadaan kita sebagai pemohon. Mungkin proses di depan petugas akan makan waktu lebih lama, tapi berdasarkan pengalaman saya, mereka sangat membantu!

Semoga bermanfaat!

*Negara G7: Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Perancis

P.S.: Tulisan ini hanya bentuk berbagi pengalaman, tidak ditujukan sebagai pendapat yang mengikat. Keputusan penerbitkan visa tetap ada di tangan Konsuler Jepang di yurisdiksi pemohon.

Made in China (Bagian 4) : Keliling Shanghai

Ci Adel dan mas Andika adalah host kami selama di Shanghai. Ci Adel adalah teman seangkatan saya di kantor, dan mas Andika adalah suaminya yang sudah bekerja di Shanghai selama kurang lebih 4 tahun. Sementara Ci Adel sendiri sedang kuliah S2 di Shanghai, dia juga lancar berbahasa mandarin sehingga praktis kami hanya manut saja dibawa kemana-mana oleh mereka. Hehehe.

Karena kami bawa koper dan ransel, kami diajak ke Bali Hai cafe tempat mereka sering manggung untuk nitip barang. Cafenya bernuansa Bali dengan makanan Indonesia dan beberapa menu dari negara ASEAN lainnya sebagai hidangan andalan. Namun, ketika kami ke sana cafenya sedang akan direnovasi. Kami menaruh barang di cafe dan host kami mengajak kami makan siang.

DSC02021
Poster band Ci Adel dan Mas Andhika 😀

DSC02022

Menurut Ci Adel, ada lumayan banyak restoran halal di Shanghai. Sehingga untuk muslim tidak ada masalah. Kami makan siang di restoran milik suku Uyygur

.DSC02032

Ketika mencatat menu pesanan kami, pelayannya menebak bahwa asal kami dari Indonesia.  Dia bilang banyak orang Indonesia yang sering makan di restoran tersebut makanya dia menebak kami dari Indonesia. Baru di Shanghai kami makan agak “layak”. Bukannya kami medit atau ga punya duit, tapi karena kami ingin mengunjungi begitu banyak tempat dan waktu yang kami miliki begitu sempit, belum lagi ditambah drama nyasar kesana-kemari karena tidak bisa bahasa Mandarin dan tidak tahu jalan, jadilah selama di Xi’an kemarin saya dan adik saya makan alakadarnya saja seketemunya di jalan (dan rupanya keadaan ini berlanjut setelah kami meninggalkan Shanghai. Hahaha). Ci Adel memesankan beberapa macam lauk dan kami makan dengan nasi. Semuanya enak! Dua anak hilang ini (saya dan adik saya) merasa senang keluar dari restoran tersebut untuk memulai jalan-jalan kami di Shanghai. Seperti kata pepatah, perut kenyang hati senang. Hehehe.

DSC02035

DSC02039

DSC02054

Shanghai adalah kota yang besar dan ramai. Karena kami dipandu oleh Mas Andhika ketika berkeliling Shanghai, saya tidak hapal arah dan nama tempat yang kami kunjungi. Kami berkeliling kota Shanghai menggunakan subway dan bus. Mas Andhika sudah hapal sekali rute subway di Shanghai sehingga tidak perlu lihat peta lagi. Sementara ketika kami harus naik bus, Ci Adel yang mencari rute dan nomor bus yang harus ditumpangi karena semua informasi bus dalam bahasa Mandarin.

DSC02148

DSC02152

DSC02191

DSC02195

DSC02186

Selama di Shanghai kami mengunjungi The Bund, French Consession district, Yuyuan Market, beberapa mall dan tempat lain yang saya tidak ingat nama-namanya. Kami mengunjungi daerah pertokoan dan The Bund 2 kali, pada siang hari dan pada malam hari untuk merasakan suasana yang berbeda. The Bund adalah salah satu landmark kota Shanghai. Paling baik dikunjungi pada malam hari karena bisa terlihat barisan gedung pencakar langit Shanghai yang berpendar warna-warni dalam cahaya lampu di tengah gelapnya malam. Sesekali ada perahu dengan lampu-lampu cantik melintas.

DSC02304
The Bund di malam hari

Di kawasan pertokoan, toko-toko barang bermerk berjejer rapih di kiri kanan jalanan yang bersih dan penuh sesak dengan orang yang lalu lalang. Suasana ketika mengunjungi tempat ini pada saat siang dan malam hari cukup berbeda sehingga jika sempat, sebaiknya mengunjungi tempat ini dua kali.

DSC02102
Satu gedung isinya Zara semua

DSC02095

DSC02107

DSC02251

DSC02253

DSC02275

Dari Ci Adel kami belajar beberapa hal tentang negara yang berpenduduk kurang lebih 1,3 miliar jiwa ini. Diantaranya adalah larangan untuk berkerumun atau berkumpul kecuali untuk berdansa. Sewaktu kami di Xi’an, kami tidak pernah melihat orang berdansa di jalanan. Tapi di distrik pertokoan ini, ada beberapa kelompok orang yang berdansa menggunakan musik di pinggir jalan. Saya tanyakan ke Ci Adel mereka sedang apa, karena di Jakarta pemandangan seperti itu tidak lazim kecuali mungkin di hari minggu saat car free day ketika ada acara senam pagi. Kemudian Ci Adel menjelaskan bahwa kelompok dansa seperti ini cukup sering ada. Tidak ada keanggotaan resmi, biasanya beberapa orang berkumpul dan memutar musik lalu mulai berdansa. Jika ada orang lewat yang mau bergabung tinggal ikuti saja gerakan dari kelompok yang sedang berdansa tersebut. Menarik. ^^

DSC02274
Let’s dance!

Hal lain yang saya pelajari tentang negara ini dari Ci Adel adalah informasi yang beredar di televisi dipilah dengan hati-hati dan tidak boleh ada informasi yang menjelek-jelekan pemerintah (sangat berbeda dengan di Indonesia dimana medianya bebas memberitakan apapun sesukanya dan bebas menjelek-jeleknya pemerintah dan bangsa sendiri). Di Cina, menjelekkan Pemerintah di media massa haram hukumnya sehingga kebanyakan berita yang beredar di media lokal adalah seputar kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ini yang saya temukan dalam beberapa hari menonton siaran tv lokal dengan translasi bahasa inggris, tapi mungkin juga saya salah.

Contoh lainnya adalah pengendalian informasi yang disebar melalui internet.  Ketika kami pertama sampai, lumayan bingung juga mau cari informasi di internet tapi google search di-ban disini. Beberapa situs search engine lokal yang muncul secara otomatis di ponsel saya menggunakan bahasa Mandarin sehingga saya juga bingung bagaimana mau menggunakannya. Situs lain yang juga di-ban oleh pemerintah Cina diantaranya adalah facebook dan whatsapp. Untungnya instagram belum di-ban sehingga saya masih bisa update foto perjalanan lewat instagram. Ci-Adel bercerita bahwa jika ingin membuka facebook di sini harus menggunakan shadow website. Pernah tiba-tiba koneksi internet di apartemen mereka mati beberapa hari karena terlalu sering membuka facebook. Everything is being watched in this country, so you better be careful. Ci Adel sempat ngeri juga takut tiba-tiba didatangi oleh pihak yang berwenang karena membuka situs yang sudah di-ban. (Kira-kira wordpress di-ban juga gak ya?!)

Sebelum berangkat ke Cina, kami sudah mendengar mengenai kadar polusi yang cukup tinggi di negara ini sehingga kami sudah siap-siap masker sebelum berangkat ke sini. Ketika kami sampai untungnya kadar polusi tidak terlalu parah, tapi ada saatnya kadar polusi sangat tinggi dan cukup membahayakan kesehatan. Saya ingat cerita Ci Adel yang mengatakan bahwa informasi mengenai kadar polusi tinggi di Cina-lah yang membuat Google di-ban di negara ini. Karena selama ini masyarakat tidak sadar bahwa udara yang mereka hirup memiliki kadar polusi yang tinggi dan informasi tersebut tercantum dalam beberapa website yang bisa diakses melalui google. Setelah temuan ini, Google pun akhirnya di-ban oleh pemerintah Cina.

Satu highlight kami mengenai kota Shanghai adalah makanannya. Makanannya enak-enak dan mirip dengan di Taiwan (menurut Ci-Adel, karena saya belum pernah kesana ^_^). Kami makan cumi-cumi raksasa dan hot bowl. Hot bowl ini sangat recommended karena kita bisa pilih sendiri bahan-bahan yang dimasukkan ke hot bowl sebanyak dan seberagam yang kita inginkan untuk kemudian disiram saus pedas dan dimakan dengan nasi hangat dan sup. Hmmm. Yummy and spicy! Malamnya kami makan hot pot, makanan wajib kalau berkunjung ke Cina apalagi saat musim dingin. Selain itu, jangan lupa juga untuk mencoba egg tart-nya. Enak banget!

DSC02167
Yummy and spicy hot bowl! \(^_^)/
DSC02163
Giant fried squid!
DSC02267
Hot pot!
DSC02134
Tasty egg tarts

Untuk urusan oleh-oleh, Yuyuan Market adalah tempat yang paling tepat untuk berburu oleh-oleh. Saya belanja banyaaak sekali pernak-pernik kecil-kecil di pasar ini. Harganya murah meriah soalnya dibandingkan dengan di tempat lain. Perhatikan kalau belanja di Cina khususnya di tempat wisata seperti peninggalan sejarah atau istana, banyak pedagang keliling yang menjajakan dagangannya dengan harga yang sangat tinggi dan mereka sangat gigih menawarkan kepada turis yang lewat. Kalau tidak mau beli sebaiknya jangan melirik sama sekali kalau anda tidak ingin diikuti dan ditawari barang selama 10 menit ke depan. Harga barangnya juga sangat variatif. Meskipun dijual di area wisata yang sama, tapi perbedaan harganya bisa sangat jauh. Jadi sebaiknya bandingkan dulu, jangan langsung beli.

DSC02224DSC02220

DSC02246

Kami melewatkan waktu yang sangat menyenangkan selama berada di kota ini berkat kedua host kami yang kece banget. Apalagi karena ada Ci Adel selama di Shanghai, kami tidak mengalami kendala bahasa sama sekali. Tapi tentunya perjalanan kami di Cina baru dimulai. Ci Adel mengantar kami ke bandara untuk bertolak ke Beijing, kota tujuan kami selanjutnya. Sebelumnya ketika naik pesawat dari Xi’an ke Shanghai, kami pikir kami tidak dapat bagasi di pesawat sehingga tas ransel besar dan koper kami selalu kami bawa naik ke kabin. Baru ketika di Shanghai kami mengetahui bahwa barang-barang kami bisa ditaruh di bagasi. Karena tiket pesawat yang kami beli murah, saya pikir yang saya beli itu tiket budget airlines. Ternyata full service semua. Toplah Cina! (npa)

DSC02315