Made in China (Bagian 6) : Beijing dan The Great Wall of China

Rupanya ada banyak sekali objek wisata yang wajib untuk dikunjungi ketika berada di Beijing. Sayangnya pada waktu itu kami hanya punya waktu satu setengah hari sebelum harus berpindah lagi ke kota lain. Pagi hari pertama kami di Beijing, kami menargetkan dua tempat untuk di kunjungi, the Forbidden City dan the Great Wall of China (sisi Badaling). Untuk pergi ke Forbidden City kami menggunakan subway dari stasiun Pudong dan berhenti di stasiun Tiananmen East (atau Tiananmen West) dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Tiananmen Square.

DSC02341
Mausoleum Mao Zedong

Forbidden City ini letaknya tepat di belakang Tiananmen Square, jadi kami sempat masuk ke mausoleum Mao Zedong terlebih dahulu sebelum ke Forbidden City. Untuk masuk ke mausoleum kami harus melalui security check-in. Di dalam mausoleum kami bisa melihat antrian panjang turis lokal yang ingin melihat jasad Mao Zedong yang disemayamkan di tempat ini. Karena antriannya cukup panjang, kami memutuskan untuk tidak ikut mengantri dan beranjak langsung ke Forbidden City.

Tiket masuk ke Forbidden City adalah 40 yuan dan bisa sewa audio guide juga. Karena pengalaman yang kurang begitu menyenangkan di museum Terra-cotta (baca: Made in China (Bagian 2) – Terra Cotta Warriors and Horses Museum) kami agak kapok menggunakan jasa tour guide. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa audio guide supaya agak paham di dalam Forbidden City nanti. Ternyata ada audio guide berbahasa Indonesianya juga lho! Keren! Pastinya kami sewa audio guide yang berbahasa Indonesia ini. Audio guide-nya bekerja secara otomatis tergantung di sisi mana Forbidden City kita berada.

Begitu masuk ke dalam, saya takjub dengan betapa luasnya kompleks istana Forbidden City ini. Tadi di lapangan Tiananmen dan mausoleum Mao Zedong juga ukurannya giant! (Museum Terra-Cotta dan Maosoleum Qin Shi Huang juga gigantic sih) membuat saya berpikir mungkin untuk mengakomodasi jumlah penduduk China yang juga besar kali ya.

DSC02369Forbidden City adalah kompleks istana di era 4 kaisar selama dinasti Qing dan dinasti Ming berkuasa. Kompleks istana ini adalah inspirasi untuk set film “Curse of the Golden Flower” lho! Ada banyak fakta menarik tentang kompleks istana ini. Misalnya, kenapa disebut Forbidden City?! Rupanya jaman dahulu, rakyat biasa tidak diperbolehkan masuk ke kompleks istana ini tanpa izin khusus dari Kaisar makanya disebut Purple Forbidden City atau Forbidden City. Ada simbol khusus yang dibuat untuk kaisar dan permaisuri dimana kaisar dilambangkan dengan binatang Naga dan Permaisuri dilambangkan dengan binatang burung Phoenix.

Setelah puas keliling Forbidden City, tak terasa sudah tengah hari maka kami memutuskan untuk makan siang di restoran lokal sebelum melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah the Great Wall of China. Untuk pergi ke the Great Wall of China, ada dua jenis transportasi umum yang bisa dipilih, bis dan kereta. Kami memutuskan untuk naik bis, karena menurut hasil riset yang saya lakukan sebelumnya, bis menuju Great Wall akan berhenti di dekat pintu masuk ke Great Wall, sementara kalau naik kereta, masih harus berjalan lagi cukup jauh karena letak stasiun keretanya.

DSC02431
Peta seadanya yang sangat membantu kami dalam menemukan jalan

Menurut sumber yang saya temukan di internet, dari Beijing ke Great Wall akan memakan waktu satu setengah jam (ternyata 3 jam lebih kami ga nyampe2!). Setelah makan siang, dengan berbekal peta yang kami foto di pintu keluar Forbidden City, kami mencari jalan menuju stasiun bis. Sebagai informasi, di sini berbagai macam social media kekinian diblok oleh pemerintah, yahoo, facebook, bahkan google. Sebagian besar website yang dapat diakses berbahasa mandarin. Karena kami berdua tidak bisa Bahasa mandarin, jadi meskipun di hotel ada wifi, kami tetap sulit mengakses informasi. Satu-satunya search engine berbahasa inggris yang dapat kami akses pada waktu itu adalah Ask.com dan itu butut banget! Sebaiknya segala macam riset yang perlu dilakukan seperti gimana cara ke suatu tempat, makanan apa yang mau dimakan, dll, dilakukan sebelum sampai di sini.

Dari restoran tadi, kami naik subway dan turun di stasiun Jishuitan dari sini seharusnya sudah dekat dengan terminal bis Deshengmen. Bis yang kami mesti naiki adalah bis nomor 877 atau 919 tapi hati-hati. Banyak scam di sini. Ketika kami keluar dari stasiun subway dan berjalan menuju stasiun bis, banyak minibus/mini van dengan tempelan kertas sesuai nomor bis yang kami mesti naiki dan tulisan yang menyatakan jurusan Great Wall. JANGAN naik minibus/minivan ini. Kalian akan dicharge dengan harga yang jauh lebih mahal dari bis umum yang seharusnya.

Bis yang benar ada di dalam terminal Deshengmen. Sayangnya, nomornya gak keliatan dengan jelas karena ditulis dalam Bahasa Mandarin. Kami muter-muter seluruh terminal beberapa kali untuk mencari bis tersebut. Akhirnya kami berhenti pada antrian panjang orang lokal yang kami yakini akan menaiki bis jurusan Great Wall. Saya mencoba bertanya pada salah satu ibu-ibu di situ menggunakan buku panduan berbahasa mandarin yang kami bawa dari Jakarta. No use. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang saya bicarakan. Mungkin karena pelafalan saya yang kurang tepat. Akhirnya saya coba menunjukkan print out hasil riset tentang Great Wall yang kebetulan ada huruf kanjinya. Dia mengerti dan menunjukkan papan besar berisi jurusan yang tempat-tempat yang akan dilalui oleh bis. Saya cocokkan huruf kanji di papan dengan print out yang saya pegang, ternyata sama. Akhirnya kami naik bis tersebut dan berdoa mudah-mudahan bis ini benar menuju ke Great Wall. Kalau salah, wassalam deh!

Tidak berapa lama naik bis tersebut, kami terlelap. Sebangunnya dari tidur singkat di bis, saya mengecek jam tangan saya dan waktu sudah berlalu sekitar 2 jam sejak kami naik bis ini. Kenapa belum sampai ya? Padahal menurut informasi yang saya dapat dari internet, hanya memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Hampir 3 jam, akhirnya kami sampai di suatu halte dimana semua penumpang bis turun. Otomatis kami pun ikut turun. Saya bingung mendeskripsikan halte tempat kami turun itu seperti apa. Terdapat gedung yang sepertinya sudah tutup dan depannya ada laman parkir dengan beberapa mobil terparkir. Tidak ada apa-apa selain halte bis, gedung kosong dan parkiran. Tadinya saya pikir ini pintu masuk ke Great Wall, tapi gak mungkin! Soalnya ga terlihat Great Wall sama sekali di sekitar tempat tersebut. Great Wall kan tembok terpanjang di dunia, jadi mestinya mudah terlihat kalau kami berada di tempat yang benar. Hadeeuuhh ini dimana lagii… -_- mana udah sore, ga ngerti ada di mana.

Kami mutar-mutar di tempat tersebut beberapa kali mencari petunjuk kami berada dimana. Beberapa pemuda menghampiri kami dan berbicara dalam Bahasa mandarin, bahkan ada yang sempat mengajak bicara dengan Bahasa inggris tapi tidak saya gubris karena saya takut kena scam lagi. Beberapa orang terlihat menaiki sebuah bis yang baru datang. Termasuk salah seorang pemuda yang tadi mengajak kami bicara dalam Bahasa inggris. Akhirnya saya bertanya pada dia karena sepertinya dia harapan terakhir kami untuk tempat bertanya. Rupanya dia mahasiswa s2 dari Uzbekistan Yang sedang kuliah di China. Tadi dia mengajak kami bicara juga karena ingin bertanya arah ke Great Wall. Yaampuunn! Maaf ya masnya saya udah su’udzon… habis dipikir tour guide scam yang kayak di Terrra Cotta.

Si mas ini bisa Bahasa mandarin juga, dan bilang bahwa bus ini menujur ke Great Wall yang letaknya masih sekitar 1,4 km lagi dari lokasi kami saat itu. Apakah bis yang kami tumpangi sebelumnya itu memang menuju Great Wall atau tidak kami tidak pernah tahu. Yang jelas meskipun kami nyasar, rupanya tidak nyasar-nyasar amat. Syukurlah…

Sekitar 7 menit kemudian sampailah kami di halte bis Great Wall. Kami berterima kasih dan mengucapkan selamat tinggal kepada mas tadi. Sekarang kami mesti berpacu dengan waktu karena kami sampai di Great Wall-nya udah sore sekali dan nampaknya sebentar lagi tutup. Kami berjalan ke arah stasiun kereta gantung supaya bisa diantar menuju spot yang direkomendasikan di internet yang terletak agak tinggi posisinya. Dari spot tersebut, kami bisa berjalan kaki untuk ke pintu keluar.

Ketika sampai di stasiun kereta gantung, stasiunnya sudah tutup!! Kami sungguh kecewa mengingat betapa susahnya untuk sampai ke tempat ini. Akhirnya kami berjalan kembali ke arah halte bis tempat kami datang tadi. Menurut petugas di stasiun kereta gantung, Great Wall-nya sendiri masih buka, hanya kereta gantungnya saja yang sudah tutup waktu itu. Jadi kalau ada pengunjung yang mau ke Great Wall, harus lewat pintu depan dengan berjalan kaki.

Tidak mau pulang dengan sia-sia, akhirnya kami berjalan kaki menuju pintu masuk Great Wall yang rupanya cukup jauh jaraknya dari halte bis. (Ga ada yang deket di China ini men!). seperti motto pemadam kebakaran “pantang pulang sebelum padam!” pantang menyerah sampai titik darah penghabisan! Sesampainya di pintu masuk, ternyata masih buka! Meskipun tinggal setengah jam lagi!

Akhirnya kami beli tiket dan menapakkan kaki di tembok legendaris tersebut! Horee!

Saya ingat betapa dingin dan angin berhembus cukup kencang sore itu dari atas Great Wall tempat kami mengambil foto. Kami mengambil sisi tembok yang sepi supaya mendapat angle foto yang lebih baik dan tidak perlu berdesakan dengan pengunjung yang lain. Rupanya ada alasan kenapa tidak banyak pengunjung yang pergi ke sisi tembok yang kami tuju. Sisi tembok yang kami tuju tidak terkena sinar matahari sore, sehingga jauh lebih dingin. Temboknya juga menanjak cukup curam tinggi ke atas, sehingga angin berhembus lebih kencang. Tapi kami cukup puas dengan pemandangan dari atas tembok. Kami juga bisa berfoto tanpa ada pengunjung lain yang ikut photo bomb di foto kami. Catatan kami untuk teman-teman traveler lain yang akan mengunjungi Great Wall, siapkan stamina dengan baik karena mengunjungi Great Wall membutuhkan banyak energi karena kita dituntut untuk banyak berjalan kaki.

DSC02451
Lihat betapa cerah dan hangat kelihatannya sisi Great Wall sebelah sana
DSC02470
Lihat betapa curamnya sisi Great Wall yang kami pilih (^_^)a

DSC02460DSC02493

DSC02475
Dapat pemandangan bagus dari sisi Great Wall yang kami pilih

Sepulangnya dari Great Wall, kami memutuskan untuk menggunakan kereta api untuk kembali ke kota Beijing. Antrian tiket kereta cukup panjang namun semua orang mengantri dengan tertib sehingga tidak menjadi masalah. Tidak lama kami mengantri, kami sudah bisa duduk nyaman di kereta bagus yang akan membawa kami direct ke downtown Beijing. Rupanya menggunakan kereta jauh lebih mudah dan tidak seribet dan membingungkan seperti naik bis! Meskipun harus jalan sekitar 1,4 km dari stasiun kereta untuk menuju Great Wall, naik kereta lebih praktis untuk traveler yang terkendala Bahasa seperti kami. Perjalanan kembali ke Beijing memakan waktu sekitar 1 jam tanpa drama seperti waktu naik bis sebelumnya. Kami sudah sampai kembali di hotel kami sebelum jam 9 malam dan bisa beristirahat untuk hari selanjutnya.

Hari terakhir kami di Beijing hanya setengah hari karena kami harus naik pesawat menuju kota selanjutnya. Ada banyak tempat wisata di Beijing, tapi kami hanya punya sangat sedikit waktu hari itu. Sebetulnya saya ingin melihat Temple of Heaven, tapi saya juga ingin melihat Summer Palace. Duh ribet ya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Summer Palace yang letaknya lebih jauh dari hotel kami, dengan harapan masih sempat untuk mengunjungi Temple of Heaven sebelum kembali ke hotel lalu cus ke Bandara.

Maka pergilah kami menuju Summer Palace menggunakan subway dari stasiun Pudong. Ternyata Summer Palace itu besaaaar ya saudara-saudara! Hahaha. Terdiri dari kompleks kerajaaan yang super luas lengkap dengan istana, menara, danau, dan taman di sana-sini.

DSC02518
Pintu Masuk Summer Palace

 

 

DSC02549

 

 

DSC02550Yang saya ingat dari kunjungan kami di kompleks istana ini adalah kami terkesima dengan keindahan tempat ini dan berjalan berputar-putar tak tentu arah sampai kami tiba di pintu masuk/keluar yang berbeda dari tempat kami datang. Karena hari sudah siang, kami tidak sempat mengunjungi Temple of Heaven dan langsung kembali ke hotel untuk check-out dan menuju ke Bandara International Ibukota Beijing (Beijing Capital International Airport). Untuk pergi ke Bandara ini dari kota Beijing, cukup naik kereta khusus dari stasiun Beijing Realway kira-kira satu jam perjalanan.

Demikianlah petualangan kami di kota Beijing dan Great Wall of China. Selanjutnya, kami menuju wilayah utara China, kota Harbin, untuk melihat festival es. Stay tuned! (npa)

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Made in China (Bagian 6) : Beijing dan The Great Wall of China

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s