Made in China (Bagian 4) : Keliling Shanghai

Ci Adel dan mas Andika adalah host kami selama di Shanghai. Ci Adel adalah teman seangkatan saya di kantor, dan mas Andika adalah suaminya yang sudah bekerja di Shanghai selama kurang lebih 4 tahun. Sementara Ci Adel sendiri sedang kuliah S2 di Shanghai, dia juga lancar berbahasa mandarin sehingga praktis kami hanya manut saja dibawa kemana-mana oleh mereka. Hehehe.

Karena kami bawa koper dan ransel, kami diajak ke Bali Hai cafe tempat mereka sering manggung untuk nitip barang. Cafenya bernuansa Bali dengan makanan Indonesia dan beberapa menu dari negara ASEAN lainnya sebagai hidangan andalan. Namun, ketika kami ke sana cafenya sedang akan direnovasi. Kami menaruh barang di cafe dan host kami mengajak kami makan siang.

DSC02021
Poster band Ci Adel dan Mas Andhika 😀

DSC02022

Menurut Ci Adel, ada lumayan banyak restoran halal di Shanghai. Sehingga untuk muslim tidak ada masalah. Kami makan siang di restoran milik suku Uyygur

.DSC02032

Ketika mencatat menu pesanan kami, pelayannya menebak bahwa asal kami dari Indonesia.  Dia bilang banyak orang Indonesia yang sering makan di restoran tersebut makanya dia menebak kami dari Indonesia. Baru di Shanghai kami makan agak “layak”. Bukannya kami medit atau ga punya duit, tapi karena kami ingin mengunjungi begitu banyak tempat dan waktu yang kami miliki begitu sempit, belum lagi ditambah drama nyasar kesana-kemari karena tidak bisa bahasa Mandarin dan tidak tahu jalan, jadilah selama di Xi’an kemarin saya dan adik saya makan alakadarnya saja seketemunya di jalan (dan rupanya keadaan ini berlanjut setelah kami meninggalkan Shanghai. Hahaha). Ci Adel memesankan beberapa macam lauk dan kami makan dengan nasi. Semuanya enak! Dua anak hilang ini (saya dan adik saya) merasa senang keluar dari restoran tersebut untuk memulai jalan-jalan kami di Shanghai. Seperti kata pepatah, perut kenyang hati senang. Hehehe.

DSC02035

DSC02039

DSC02054

Shanghai adalah kota yang besar dan ramai. Karena kami dipandu oleh Mas Andhika ketika berkeliling Shanghai, saya tidak hapal arah dan nama tempat yang kami kunjungi. Kami berkeliling kota Shanghai menggunakan subway dan bus. Mas Andhika sudah hapal sekali rute subway di Shanghai sehingga tidak perlu lihat peta lagi. Sementara ketika kami harus naik bus, Ci Adel yang mencari rute dan nomor bus yang harus ditumpangi karena semua informasi bus dalam bahasa Mandarin.

DSC02148

DSC02152

DSC02191

DSC02195

DSC02186

Selama di Shanghai kami mengunjungi The Bund, French Consession district, Yuyuan Market, beberapa mall dan tempat lain yang saya tidak ingat nama-namanya. Kami mengunjungi daerah pertokoan dan The Bund 2 kali, pada siang hari dan pada malam hari untuk merasakan suasana yang berbeda. The Bund adalah salah satu landmark kota Shanghai. Paling baik dikunjungi pada malam hari karena bisa terlihat barisan gedung pencakar langit Shanghai yang berpendar warna-warni dalam cahaya lampu di tengah gelapnya malam. Sesekali ada perahu dengan lampu-lampu cantik melintas.

DSC02304
The Bund di malam hari

Di kawasan pertokoan, toko-toko barang bermerk berjejer rapih di kiri kanan jalanan yang bersih dan penuh sesak dengan orang yang lalu lalang. Suasana ketika mengunjungi tempat ini pada saat siang dan malam hari cukup berbeda sehingga jika sempat, sebaiknya mengunjungi tempat ini dua kali.

DSC02102
Satu gedung isinya Zara semua

DSC02095

DSC02107

DSC02251

DSC02253

DSC02275

Dari Ci Adel kami belajar beberapa hal tentang negara yang berpenduduk kurang lebih 1,3 miliar jiwa ini. Diantaranya adalah larangan untuk berkerumun atau berkumpul kecuali untuk berdansa. Sewaktu kami di Xi’an, kami tidak pernah melihat orang berdansa di jalanan. Tapi di distrik pertokoan ini, ada beberapa kelompok orang yang berdansa menggunakan musik di pinggir jalan. Saya tanyakan ke Ci Adel mereka sedang apa, karena di Jakarta pemandangan seperti itu tidak lazim kecuali mungkin di hari minggu saat car free day ketika ada acara senam pagi. Kemudian Ci Adel menjelaskan bahwa kelompok dansa seperti ini cukup sering ada. Tidak ada keanggotaan resmi, biasanya beberapa orang berkumpul dan memutar musik lalu mulai berdansa. Jika ada orang lewat yang mau bergabung tinggal ikuti saja gerakan dari kelompok yang sedang berdansa tersebut. Menarik. ^^

DSC02274
Let’s dance!

Hal lain yang saya pelajari tentang negara ini dari Ci Adel adalah informasi yang beredar di televisi dipilah dengan hati-hati dan tidak boleh ada informasi yang menjelek-jelekan pemerintah (sangat berbeda dengan di Indonesia dimana medianya bebas memberitakan apapun sesukanya dan bebas menjelek-jeleknya pemerintah dan bangsa sendiri). Di Cina, menjelekkan Pemerintah di media massa haram hukumnya sehingga kebanyakan berita yang beredar di media lokal adalah seputar kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ini yang saya temukan dalam beberapa hari menonton siaran tv lokal dengan translasi bahasa inggris, tapi mungkin juga saya salah.

Contoh lainnya adalah pengendalian informasi yang disebar melalui internet.  Ketika kami pertama sampai, lumayan bingung juga mau cari informasi di internet tapi google search di-ban disini. Beberapa situs search engine lokal yang muncul secara otomatis di ponsel saya menggunakan bahasa Mandarin sehingga saya juga bingung bagaimana mau menggunakannya. Situs lain yang juga di-ban oleh pemerintah Cina diantaranya adalah facebook dan whatsapp. Untungnya instagram belum di-ban sehingga saya masih bisa update foto perjalanan lewat instagram. Ci-Adel bercerita bahwa jika ingin membuka facebook di sini harus menggunakan shadow website. Pernah tiba-tiba koneksi internet di apartemen mereka mati beberapa hari karena terlalu sering membuka facebook. Everything is being watched in this country, so you better be careful. Ci Adel sempat ngeri juga takut tiba-tiba didatangi oleh pihak yang berwenang karena membuka situs yang sudah di-ban. (Kira-kira wordpress di-ban juga gak ya?!)

Sebelum berangkat ke Cina, kami sudah mendengar mengenai kadar polusi yang cukup tinggi di negara ini sehingga kami sudah siap-siap masker sebelum berangkat ke sini. Ketika kami sampai untungnya kadar polusi tidak terlalu parah, tapi ada saatnya kadar polusi sangat tinggi dan cukup membahayakan kesehatan. Saya ingat cerita Ci Adel yang mengatakan bahwa informasi mengenai kadar polusi tinggi di Cina-lah yang membuat Google di-ban di negara ini. Karena selama ini masyarakat tidak sadar bahwa udara yang mereka hirup memiliki kadar polusi yang tinggi dan informasi tersebut tercantum dalam beberapa website yang bisa diakses melalui google. Setelah temuan ini, Google pun akhirnya di-ban oleh pemerintah Cina.

Satu highlight kami mengenai kota Shanghai adalah makanannya. Makanannya enak-enak dan mirip dengan di Taiwan (menurut Ci-Adel, karena saya belum pernah kesana ^_^). Kami makan cumi-cumi raksasa dan hot bowl. Hot bowl ini sangat recommended karena kita bisa pilih sendiri bahan-bahan yang dimasukkan ke hot bowl sebanyak dan seberagam yang kita inginkan untuk kemudian disiram saus pedas dan dimakan dengan nasi hangat dan sup. Hmmm. Yummy and spicy! Malamnya kami makan hot pot, makanan wajib kalau berkunjung ke Cina apalagi saat musim dingin. Selain itu, jangan lupa juga untuk mencoba egg tart-nya. Enak banget!

DSC02167
Yummy and spicy hot bowl! \(^_^)/
DSC02163
Giant fried squid!
DSC02267
Hot pot!
DSC02134
Tasty egg tarts

Untuk urusan oleh-oleh, Yuyuan Market adalah tempat yang paling tepat untuk berburu oleh-oleh. Saya belanja banyaaak sekali pernak-pernik kecil-kecil di pasar ini. Harganya murah meriah soalnya dibandingkan dengan di tempat lain. Perhatikan kalau belanja di Cina khususnya di tempat wisata seperti peninggalan sejarah atau istana, banyak pedagang keliling yang menjajakan dagangannya dengan harga yang sangat tinggi dan mereka sangat gigih menawarkan kepada turis yang lewat. Kalau tidak mau beli sebaiknya jangan melirik sama sekali kalau anda tidak ingin diikuti dan ditawari barang selama 10 menit ke depan. Harga barangnya juga sangat variatif. Meskipun dijual di area wisata yang sama, tapi perbedaan harganya bisa sangat jauh. Jadi sebaiknya bandingkan dulu, jangan langsung beli.

DSC02224DSC02220

DSC02246

Kami melewatkan waktu yang sangat menyenangkan selama berada di kota ini berkat kedua host kami yang kece banget. Apalagi karena ada Ci Adel selama di Shanghai, kami tidak mengalami kendala bahasa sama sekali. Tapi tentunya perjalanan kami di Cina baru dimulai. Ci Adel mengantar kami ke bandara untuk bertolak ke Beijing, kota tujuan kami selanjutnya. Sebelumnya ketika naik pesawat dari Xi’an ke Shanghai, kami pikir kami tidak dapat bagasi di pesawat sehingga tas ransel besar dan koper kami selalu kami bawa naik ke kabin. Baru ketika di Shanghai kami mengetahui bahwa barang-barang kami bisa ditaruh di bagasi. Karena tiket pesawat yang kami beli murah, saya pikir yang saya beli itu tiket budget airlines. Ternyata full service semua. Toplah Cina! (npa)

DSC02315

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s