Made in China (Bagian 3) : Dari Xi’an ke Shanghai

Kami harus bangun jam 3 pagi karena pesawat kami dari Xi’an ke Shanghai berangkat jam 8 pagi. Ngomong-ngomong, sebagai informasi, kami hanya satu hari di Xi’an karena waktu kami cukup sempit dan kota yang dikunjungi ada 4 dengan jarak yang berjauhan, sehingga opsi transportasi kami terbatas pada pesawat terbang untuk pindah-pindah kota tersebut. Rute kami adalah Xi’an-Shanghai-Beijing-Harbin-Xi’an dalam waktu 10 hari. Dari Harbin kami harus kembali ke Xi’an karena tiket pesawat yang kami beli untuk pulang ke Jakarta adalah tiket PP Jakarta-Xi’an. Not a very smart way to travel I know, but trust me, I’ve tried several options and the budget were more expensive. Saya menggunakan situs booking bernama Ctrip China versi bahasa Inggris sehingga mudah untuk memesan tiket domestik di China dengan harga bersaing.

Dari kota Xi’an, kami harus naik bis untuk ke bandara Xi’an Xianyang International Airport sekitar 1 jam. Bis paling pagi adalah jam 5.30 jadi itulah mengapa kami bangun jam 3 pagi, supaya tidak ketinggalan bis yang jam 5.30. Kalau sampai ketinggalan bisa panjang urusannya.

DSC01964 - Copy

Do you got SWAG? In China we got CWAG!

DSC01968 - Copy

Nah, bus stopnya kayak gini.

Kami tiba di bandara sekitar jam 6.30 dan check-in tanpa masalah. Karena saya tidak bisa bahasa mandarin, dan karena tiket pesawat yang kami beli harganya murah, saya berasumsi bahwa kami tidak mendapat bagasi. Rupanya, semua tiket yang saya beli di Ctrip China itu ada bagasinya, dan dapat makan pula selama penerbangan! Full fare macam Garuda gitu deh. Tapi dengan harga miring. Saya terbang dari Xi’an ke Shanghai sekitar 300ribuan rupiah sahaja per orang. Tapi sayang pada waktu itu saya tidak tahu, jadi saya dan adik saya tetap membawa-bawa gembolan backpack dan koper kami naik ke kabin.

Di pesawat, kami duduk satu row dengan seorang pria lokal. Dia duduk di sisi window, di sebelahnya ada adik saya, baru saya duduk di aisle. Sepertinya sih ramah, tapi tidak bisa berbahasa Inggris. Setelah makan makanan yang disajikan oleh pramugari dan baca-baca majalah. Saya menemukan artikel menarik tentang acara perjodohan PNS di China yang diadakan di Nanjing, salah satu provinsi di China. Saya dengar populasi laki-laki di China melebih populasi wanitanya karena tradisi yang menganggap bahwa pria adalah penerus garis keturunan keluarga sehingga yang diharapkan lahir adalah bayi laki-laki. Saya pikir bagus juga nih acara macam begini untuk membantu para jones (jangan marah yang jones ya, saya juga kok, hahaha) menemukan pasangan. Lucu juga kali ya kalau di Indonesia ada acara kayak begini.

DSC01972

Majalah yang disediakan di Pesawat.

DSC01970

“I almost married a civil cervant” – artikel menarik tentang festival perjodohan PNS di China.

DSC01971

On the civil servant matchmaking, citizens are checking participants’ information.

Setelah baca-baca majalah, saya merasa bosan dan menantang adik saya untuk ngobrol dengan pria lokal di sebelahnya itu. Dengan berbekal buku percakapan bahasa mandarin yang kami bawa dari Indonesia, terjadilah percakapan panjang antara adik saya dengan pria tersebut. Sebut saja namanya Po (karena saya lupa nama dia siapa). Rupanya dia berasal dari Shanghai namun bekerja di Xi’an. Dia kembali ke Shanghai karena sebentar lagi akan Imlek, jadi dia pulang kampung ke rumahnya di Shanghai. Di rumah dia tinggal bersama istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Po sangat ramah. Dia bahkan memberikan camilan yang dia bawa kepada adik saya. Tapi karena kami tidak mengerti maksudnya apa (disangka dia cuman mau nunjukkin doank karena sebelumnya adik saya nanya soal makanan enak di Shanghai), jadi adik saya mengembalikan camilannya. Dia juga memperingatkan untuk berhati-hati di tempat keramaian karena suka ada copet. Sekali lagi kami merasakan keramahan orang China setelah 2 kali ditolong sewaktu berada di Xi’an.

DSC01973

Adik saya dan teman barunya.

Setelah pesawat mendarat di Shanghai, kami berpisah dengan Po dan menuju stasiun Maglev (kereta super duper cepat China) yang nyambung dengan bandara untuk pergi ke stasiun Maglev Longyang Road Station untuk menemui host kami di Shanghai.

DSC01986

Boarding the train.

DSC01989

DSC01997

431 km/jam!!!

Saya pernah menjajal kereta super cepat di Jepang, Shinkansen. Tapi ternyata Maglev lumayan jauh lebih cepat daripada Shinkansen. Kecepatan kereta Maglev mencapai 431 km per jam. Keretanya sudah tidak pakai roda lagi, melainkan pakai teknologi super konduktor sehigga hambatan pada saat kereta melaju hampir tidak ada. Makanya kereta bisa jalan dengan mulus. Sayangnya, kereta Maglev baru ada di Shanghai untuk rute bandara Pudong-Maglev Longyang Road Station.

Mungkin karena untuk membangun infrakstruktur secanggih ini yang lintas kota dan provinsi dibutuhkan biaya yang sangat besar ditambah lagi ada masalah pembebasan lahan, karena Maglev harus dibangun di rel khusus untuk Maglev saja. Kami sampai di Longyang Road Station hanya dalam waktu 10 menit (baru juga duduk, udah sampai). Kemudian kami dijemput oleh host kami, ci Adel dan mas Andika untuk mulai eksplorasi kota Shanghai. Let’s go! (npa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s