Made in China (Bagian 2) : Terra-cota Warriors and Horses Museum

Cuaca pada pagi itu sungguh kurang bersahabat. Salju turun dan kabut cukup tebal terlihat di atas kami. Jadi kurang semangat untuk jalan-jalan. Tadinya kami berencana untuk main ke beberapa icon wisata di kota Xi’an seperti Bell Tower, Big Wild Goose Pagoda, dan City Wall. Tapi karena cuaca yang kurang baik, kami memutuskan untuk langsung pergi ke Terra-cota warriors and horse museum, tujuan utama kami datang ke kota Xi’an.

Untuk pergi ke Terra-cota museum cukup naik bus nomor 306 (no.5) atau 307 (no.6) jurusan Terra-cota dari Xi’an Railway Station (east gate), harga tiketnya 7 Yuan. Jangan lupa perhatikan tulisan “Terra-cota” di badan bis selain nomor bis. Karena kami sempat hampir salah naik bis karena hanya memperhatikan nomornya saja. Cukup tanya petugasnya pake 2 kata “Terra-cota?”. Kalau dia menggeleng, berarti bukan itu bisnya.

Kami naik bis 1 kali dari depan hotel lalu turun pas di stasiun kereta Xi’an. Kami mengalami kendala sewaktu naik bis ke stasiun. Ongkos naik bis di Xi’an adalah 1 Yuan. Sementara kami yang baru mendarat tengah malam hanya punya uang receh 1 Yuan, sisanya uang pecahan besar. Padahal saya naik berdua dengan adik saya. Akhirnya saya nekat saja ngomong pake Bahasa Inggris ke penumpang lain yang notabene lokal semua, “Does anyone speak English?” “Does anyone have change? (sambil melambaikan selembar uang 20 Yuan)”. Hening. Tidak menyerah, saya bertanya pada 3 penumpang yang duduk dekat saya. Salah satu mbak-mbak mengeluarkan uang 2 Yuan dan memberikannya pada saya tanpa ngomong apa-apa. Err….  saya mencoba menjelaskan pada dia bahwa saya tidak minta uang tapi mau tukar uang… tapi dia keukeuh ngasih. Akhirnya saya ambil 1 Yuan dan bilang “xie xie” pada si mbak itu.

Setelah membayar ongkos bis (cukup masukkan uang 1 Yuan per orang ke kotak yang telah disediakan) kami berdiri di dekat si mbak tadi.  Tidak lama kemudian ada 1 mas-mas yang berdiri dari kursinya kemudian pindah ke bagian belakang bis tapi tidak turun. Sepertinya sih mau ngasih saya tempat duduk tapi gak berani ngomong karena ga bisa pake Bahasa Inggris. Mungkin saya dikira hamil (padahal cuman gendut) jadi dia kasih tempat duduk. Kemudian mas-mas satu lagi yang duduk di bangku sebelahnya ikutan pindah ke belakang. Saya pikir rejeki ga boleh ditolak, akhirnya saya dan adik saya duduk di bangku yang ditinggalkan 2 mas-mas tadi.

Menurut orang hotel, rute bis kami hanya luruuuus saja. Pasti sampai di stasiun kereta Xi’an. Tapi karena gak tahu ancer-ancernya, saya minta adik saya untuk mencoba tanya ke mbak-mbak yang membantu kami tadi. Sayangnya si mbak tidak mengerti maksud adik saya karena kendala bahasa lagi. Lalu kemudian adik saya kembali ke tempat duduk kami. Tidak lama kemudian si mbak tadi pindah duduk di sebelah saya dan menyodorkan hp-nya berisi pertanyaan dalam Bahasa Inggris yang dia translate dari Bahasa Mandarin menggunakan aplikasi pada hp-nya. “Are you going to the train station?”. “Yes!” Kemudian dia menjelaskan bahwa kami bisa turun bareng dia karena dia juga akan turun di sana. Rupanya stasiun kereta Xi’an  adalah perhentian terakhir dari rute bis yang kami tumpangi. Setelah mengucapkan terima kasih pada mbak-mbak baik hati tersebut, kami pergi ke terminal bis untuk mencari bis yang menuju Museum Terra-cota.DSC01812Terminal Bis di Xi’an. Terlihat di belakang saya “City Wall” Xi’an. Salah satu destinasi wisata di kota ini.

Perjalanan dari terminal bis ke museum Terra-cota memakan waktu kira-kira 1 jam. Bis ini layaknya bis jarak jauh biasa dimana orang bisa naik turun di sepanjang rute bis ini. Ada saatnya bis tersebut sangat penuh sampai-sampai orang harus berdiri. Semacam naik patas AC Jakarta-Depoklah. Keuntungan naik bis dari terminal adalah kami bisa dapat tempat duduk dan cukup diam duduk manis sampai perhentian terakhir, Terra-cota Warriors and Horses Museum.

Sesampainya di perhentian bis terakhir, kami berjalan kira-kira 20 menit menuju pintu masuk museum. Jaraknya lumayan jauh dan tanda petunjuk arahnya juga membingungkan. Kami sempat nyasar (makanya 20 menit) berjalan kaki ke arah Ice World dan bukannya ke Museum Terra-cota. Di sepanjang kami jalan ke arah yang salah tersebut, juga ada beberapa tour provider yang menawarkan untuk side trip di luar Terra-cota. Yakali kami baru sampai masa langsung pergi side trip. Saran kami begitu turun dari bis, ikuti saja penduduk lokal. Biasanya mereka jalan menuju pintu masuk Museum Terra-cota.

Mendekati pintu masuk Museum, ada stand official tour guide Museum Terra-cota yang menawarkan jasa kepada para turis yang datang. Tarifnya 150 Yuan untuk tour keliling Museum selama 2 jam. Mereka sangat gigih dalam menawarkan jasa tour. Jadi kalau tidak mau pakai tour, harus galak nolaknya. Bujuk rayunya adalah di dalam tidak ada penjelasan informasi dalam Bahasa Inggris, lalu, kalian kan tidak setiap hari kesini. Jadi ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk menggunakan tour guide. Saat itu kami terperdaya dan akhirnya pakai jasa tour. Tour guide kami bernama Sani. Kami membeli tiket masuk di loket (120 Yuan per orang – sudah termasuk tiket masuk ke Qin Shi Huang’s Mausoleum). Dari pintu masuk, Sani menyarankan kami untuk naik mobil kecil ke museum yang katanya jaraknya cukup jauh, padahal gak jauh sama sekali. Tarifnya 10 Yuan per orang (bahkan lebih mahal dari bis jurusan terminal Xi’an-Museum  Terra-cota yang baru saja kami naiki selama 1 jam). Kalau masih muda dan kuat, kami sarankan jalan kaki saja. Kami menyesal buang-buang uang untuk naik mobil tersebut.

Museum Terra-cota terdiri dari 3 Pit (lubang galian pasukan Terra-cota) dan ruang display serta museum. Pertama kali ditemukan oleh 3 orang petani lokal pada tahun 1974 di Distrik Lintong, Xi’an, Provinsi Shaanxi. Disinyalir terdapat lebih dari 8000 tentara Terra-cota, 130 kereta kuda, 520 kuda, dan 150 pasukan kavaleri di dalam ketiga Pit tersebut. Ini belum termasuk artefak dan pasukan Terra-cota lainnya yang masih terkubur di dalam tanah. Diyakini di dekat kuburan sang Kaisar, Qin Shi Huang’s Mausoleum, masih terdapat banyak pasukan yang terkubur.

Pit 1 adalah yang paling besar dan paling bagus menurut kami. Sani menjelaskan bahwa pembangunan pasukan Terra-cota dilakukan bertingkat-tingkat ke bawah tanah. Bagian tubuh dan kakinya kopong, hanya bagian kepala, tangan dan telapak kaki yang penuh. Bagian tubuh dan kaki dibuat terpisah dengan bagian kepala. Bagian kepala dibuat khusus karena setiap wajah dari pasukan dibuat mengikuti model wajah prajurit yang sebenarnya sehingga setiap pasukan terra-cota memiliki wajah yang berbeda. Setelah semua bagian tubuh disatukan, patung prajurit terra-cota dicat warna-warni. Tapi tentunya sekarang sudah tidak terlihat warnanya karena sudah tergerus waktu ribuan tahun.DSC01884Selamat datang di Museum Terra-cota. Pit 1.DSC01830Pit 1 – tampak samping.DSC01832Zoom in – pasukan terra-cota.DSC01855Pembuatan Pasukan Terra-cota.DSC01851Serupa tapi tak sama. Carilah persamaan pada wajah patung-patung ini.

Sani membawa kami mengitari Pit 1 sambil menjelaskan (dengan cepat) tentang sejarah tempat tersebut dan memberikan kami waktu foto-foto (yang sangat singkat) lalu kemudian berjalan ke Pit 2. Pit 2 berukuran jauh lebih kecil dari Pit 1. Disini kami melihat sisa-sisa kereta kuda dan pasukan terra-cota.DSC01840Pit 2 – Kuda dan pasukan terra-cota. Kereta-nya dahulu terbuat dari kayu sehingga sudah hancur tergerus waktu. 

Sani membawa kami ke toko souvenir (dia bilang “Display room”) dan membujuk kami untuk belanja. Di “display room” tersebut kita bisa melihat banyak replika pasukan terra-cota berbagai ukuran dengan banderol harga yang sangat mahal. Sani bilang bahwa replika disini dibuat dengan material yang sama dari pasukan terra-cota yang asli. Harga satu replika mini dari pasukan terra-cota di “display room” tersebut adalah 100 Yuan (ya hampir sama dengan harga tiket masuk ke museum ini).DSC01852“Display room” – yeah right.DSC01850Mejeng di “display room”.

“Hmm… ini baru hari pertama kami di China, masa udah mau belanja. Mahal pula harga souvenirnya,” pikir kami. Akhirnya meskipun Sani bilang apa, membujuk seperti apa pun, kami tetap tidak bergeming dan hanya menanggapi dengan “hmmm… oh ya? Really? Cool.” Tanpa membeli apapun dari “display room” tersebut. “Mulai aneh nih mbak-mbak tour guide” gunjing kami dalam Bahasa Indonesia.

Sani yang manyun karena kami tidak belanja apapun di “display room” tadi melanjutkan tour kami dengan tingkat penjelasan yang semakin cepat dan waktu untuk foto-foto yang semakin singkat.

Di Pit 3 kami tidak melihat ada reruntuhan pasukan ataupun kuda di sana. Sepertinya sudah dipindahkan ke tempat lain. Di sana ada tempat untuk foto dengan dekorasi pasukan Terra-cota sehingga kita bisa berfoto dari dekat dengan pasukan terra-cota. Disini lagi-lagi Sani “membujuk” kami untuk foto. Tarifnya 30 Yuan per orang untuk foto menggunakan kamera pribadi. Sebenarnya saya mau, tapi karena disitu saya merasa sedih, maksud saya karena saya mulai merasa kesal dengan Sani, akhirnya adik saya saja yang saya suruh berfoto dengan dekorasi tersebut. Sani tambah manyun.DSC01875Pit 3.DSC01859Berfoto dengan pasukan terra-cota. 30 Yuan.

Di Pit 3 ada display dari pasukan dan kuda Terra-cota (sepertinya inilaah “display room” yang sebenarnya) dan kami berfoto-foto di sana sambil di buru-buru oleh Sani disuruh cepat-cepat. Akhirnya saya bilang ke adik saya kita dismiss saja si mbak ini segera, nanti kita balik lagi kemari sendiri.DSC01918Terra-cota warriors.DSC01879Kereta kuda terra-cota.DSC019242000 tahun yang lalu, kira-kira beginilah warna dari salah satu pasukan terra-cota.

Selanjutnya Sani mengajak kami menemui petani lokal yang pertama kali menemukan pasukan Terra-cota pada tahun 1976. Mereka sekarang sudah pensiun dan hanya tertinggal 2 orang dari 3 petani tersebut karena yang satu sudah meninggal dunia. Setiap akhir pekan mereka akan ada di museum sehingga turis bisa menemui dan berbicara dengan mereka.DSC01854Salah satu bapak petani penemu pasukan terra-cota. Semoga panjang umur ya Pak!

Kebetulan kami kesana pada akhir pekan dan kami melihat kedua petani tersebut. Di sini lagi-lagi Sani “membujuk” kami untuk membeli buku kumpulan foto pasukan terra-cota yang bisa ditandatangani oleh kedua petani. Kami menolak membeli dan Sani manyun lagi.

Akhirnya kami sampai pada penghujung tour di Museum Terra-cota. Kami membayar jasa Sani 150 Yuan dan dia meminta tip. Kami tambahkan 50 Yuan untuk tip dan kami berpisah. Bhai! Setelah dia pergi, kami kembali ke Pit 1 dan berfoto lagi karena tadi sangat sebentar disana. DSC01894Cukup waktu untuk mengagumi keindahan peninggalan sejarah ini.

Kami juga menyusuri lagi Pit 2 dan 3 serta display room tanpa ada gangguan tour guide yang selalu menyuruh kami buru-buru. Kami membeli souvenir dari pedagang yang keliaran di Museum, 5 miniatur pasukan terra-cota dengan kotak yang bagus seharga 140 Yuan. Kami pikir itu sudah murah, tapi ada lagi yang menawarkan barang yang sama dengan harga 70 Yuan. “Buset. Ini barang sebetulnya berapa sih harganya,” pikir kami. Kami juga membeli magnet kulkas di toko di luar museum seharga 40 Yuan (karena toko yang di dalam museum menjual dengan harga 120 Yuan per magnet), namun belakang kami tahu ternyata itu masih mahal.

Jadi ada 3 hal yang kami pelajari dalam perjalanan kami di Museum Terra-cota. Pertama, saran kami sebaiknya tidak usah membeli souvenir di area museum karena di bandara juga ternyata ada dengan harga yang lebih murah. Kedua, tidak usah juga pakai tour guide karena ternyata reseh. Ketiga, di pintu masuk, di pintu keluar, di area souvenir, berjalanlah menempel dengan rombongan turis lokal. Karena jika kita berjalan sendiri, niscaya akan banyak pedagang atau tour operator gangguk yang gigih menawarkan produknya pada kita dan kita akan capek sendiri berusaha menolaknya karena mereka sangat gigih.

Usai putar-putar di Museum Terra-cota, kami pergi ke Qin Shi Huang’s Mausoleum yang termasuk di harga tiket kami. Untuk pergi ke Mausoleum cukup naik shuttle bus yang disediakan (gratis) dari halte yang terletak di dekat stand official tour guide.DSC01929Di pintu keluar Museum Terra-cota banyak pedagang. Kalau tidak mau beli, usahakan jaga jarak 5 meter dari stand dan jangan nengok-nengok ke arah stand *pasang kacamata kuda*DSC01934Karena kami lapar, kami beli mie kuah take away dari salah satu stand makanan di pintu keluar. 20 Yuan.DSC01936Taman di luar Museum Terra-cota.

Kami sampai di Mausoleum sekitar jam 4 sore. Area ini terdiri dari bukit tempat Kaisar disemayamkan dan taman yang sangat luas.DSC01939Sepaket dengan Museum Terra-cota. Situs ini juga termasuk UNESCO World Heritage.DSC01944Taman di sekitar Mausoleum. Guedeee bangeeet!DSC01957Xie-xie Xi’an!

Kami berputar-putar di sekitar tempat ini menuju bukit (yang tidak bisa dimasuki) sebelum akhirnya kembali ke kota Xi’an naik bis (no.306/no.307) dari tempat parkir di Mausoleum. (npa)

Advertisements

One thought on “Made in China (Bagian 2) : Terra-cota Warriors and Horses Museum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s