Made in China (Bagian 1) : Ni Hao Xi’an!

Bukan. Made in China disini artinya bukan ‘buatan China’ ataupun dibuat di China, melainkan ‘Made di China’. Ya, perkenalkan nama saya Putu dan Made adalah adik saya yang jadi partner traveling saya kali ini ke China selama 10 hari.DSC01800Sewaktu transit di KLIA.

Awalnya saya berencana pergi bersama Feliks dan Willy. Namun, karena satu, dua, tiga, dan lain hal, akhirnya saya pergi berdua saja dengan adik saya. Rute kami adalah Jakarta-Xian-Shanghai-Beijing-Harbin-Xian-Jakarta. Rute yang cukup ambisius mengingat waktu kami hanya 10 hari dan jarak antar kota yang ingin kami kunjungi cukup jauh.

Perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk merampungkan itinerary trip ke China ini di sela-sela kesibukan (baca: kemalasan). Masalahnya adalah sempitnya waktu dan banyaknya kota yang akan kami kunjungi, membuat opsi transportasi antar kota tersebut tidak bisa tidak haruslah pesawat terbang. Saya sempat mempertimbangkan opsi untuk naik kereta dari Beijing ke Harbin misalnya. Namun, opsi itu kurang menggiurkan mengingat waktu tempuh yang 20 jam dan harga tiket kereta yang ternyata malah lebih mahal daripada tiket pesawat domestik.

Kami naik pesawat Air Asia untuk ke Xi’an, kota pertama yang kami kunjungi di China. Beli tiketnya udah dari bulan September 2014, kebetulan dapat tiket promo 3,8 Juta Jakarta-Xi’an pp. Pasca kecelakaan pesawat AA bulan Desember 2014 yang lalu, agak ngeri juga. Apalagi sedang musim hujan. Untungnya penerbangan kami aman-aman saja. Kami berangkat 30 Januari 2015 pagi hari dan transit di KLIA, Kuala Lumpur-Malaysia lalu lanjut ke Xi’an dan mendarat di sana tengah malam. Airport di Xian adalah Xi’an Xianyang International Airport (XIY), terdiri dari 3 terminal dimana terminal 2 khusus domestik dan terminal 3 digunakan untuk domestik dan internasional. Kurang paham juga dimana letak terminal 1-nya. Waktu di sana ga sempat lihat.

Karena saat itu sudah tengah malam, kami memutuskan untuk tidur di airport. Pertimbangannya adalah berdasarkan info yang saya dengar dari beberapa teman yang sudah ke China, belum banyak orang yang berbahasa Inggris, ini termasuk supir taksinya. Selain itu jarak dari bandara Xianyang ke pusat kota cukup jauh (sekitar 1 jam). Jadilah karena khawatir sudah malam dan takut dibawa muter-muter sama supir taksi, kami menginap di bandara. Bukan opsi yang terlalu bagus, mengingat saat itu musim dingin dan suhu di luar -4 derajat celsius dimana Arrival hall tempat kami numpang tidur tidak menyala heaternya. Begitu mendarat di Xi’an kami membeli tiket Airport bus untuk hari berikutnya kemudian mencari tempat duduk untuk tidur.DSC01803Penampakan eskalator di dekat bangku tempat kami numpang tidur.

Saat kami sedang melamun di salah satu bangku di Arrival hall tersebut sambil menunggu kantuk, kami diliatin oleh 2 ibu-ibu cleaning service. Berusaha untuk sopan, kami sapa mereka dengan “ni hao”.  Eh, malah mereka datang menghampiri kami sambil bicara bahasa mandarin. Berbekal buku percakapan sederhana yang kami bawa dari Jakarta, kami bilang “wo bu hui shuo Zhongwen” yang artinya “saya tidak bisa berbicara bahasa China.” Namun, kedua ibu itu terus saja ngerocos. Kami berdua hanya bisa nyengir kebingungan. Dalam hati sih agak khawatir, jangan-jangan kedua ibu ini mengusir kami dari bandara karena tidak boleh menginap di bandara. Tak lama kemudian ada mbak-mbak berjilbab yang duduk di bangku sebelah menyapa kami dalam bahasa Inggris. Rupanya mbak itu adalah mahasiswa China yang sedang kuliah di Kuala Lumpur dan dia tadi naik pesawat yang sama dengan kami. Dialah yang menjadi penerjemah kami dengan kedua ibu tersebut.

Rupanya kedua ibu ini mau ngasih tau kalau di hall itu suka ada bersih-bersih malam-malam. Kalau lagi bersih-bersih, ga boleh ada di hall itu. Tapi kalau ga ada sih boleh aja diam disitu sampai pagi. Mereka menyarankan kami untuk pindah ke Departure hall karena lebih banyak orang di sana yang numpang tidur kalau mau bisa sewa sleep box atau tidur di hotel dekat bandara, demikian penjelasan si mbak mahasiswa ke kami. Dia juga ternyata berniat untuk tidur disitu karena pesawat dia jam 8 pagi hari berikutnya. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap tidur di Arrival hall.

Si mbak mahasiswa namanya Lia. Dia berasal dari Inner Mongolia (salah satu provinsi di China) dan dia muslim. Saat ini dia sedang kuliah di sebuah universitas di Kuala Lumpur dan sedang pulang ke China karena mau Imlek. Bersyukur banget ada dia yang bisa nerjemahin percakapan dengan ibu-ibu cleaning service tadi. Kami ngobrol-ngobrol sepanjang malam baru kemudian (berusaha) tidur.

Tidur di bandara tanpa heater saat musim dingin sungguh betul-betul sengsara. Kaki dan tangan saya membeku! Untungnya tidak jauh dari tempat kami duduk ada mesin air minum gratisan yang ada air panasnya. Jadi kami bolak balik ambil air panas pakai botol air mineral sekedar untuk menghangatkan tangan yang membeku. Alhasil saya hanya berhasil tidur 1 jam karena udara yang super dingin.

Menjelang pagi, Lia pamit untuk pindah ke Departure hall karena mau check in untuk penerbangannya ke Inner Mongolia. Tidak lama setelah itu kami menunggu bus di depan bandara untuk menuju hotel kami. Bus paling pagi dari bandara adalah jam 7.40, tapi karena saat itu musim dingin, jam segitu pun masih berasa seperti subuh.

Perjalanan dari bandara ke kota memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Kami turun di stopan terakhir “Xi Shao Gate” kemudian lanjut naik taksi (30 Yuan) menuju hotel. Hotel kami adalah Ibis Xian Heping.DSC01804Pemandangan dari jendela kamar hotel. Ga menarik yah.. hahahaDSC01805Quite decent. Lumayan banget 200ribuan ini mah ^^

Letaknya cukup strategis dan rate kamarnya hanya 200 ribuan semalam. Karena kami berdua jadi split setengah-setengah bayarnya. Harganya jadi sama dengan kalau menginap di backpacker hostel di Singapur atau Jepang misalnya untuk 1 orang, tapi kami dapat kamar private dengan kamar mandi dalam. Untungnya harga kamar hotel di Xi’an tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Sesampainya di hotel kami istirahat sejenak sebelum memulai petualangan kami di kota Xi’an. (npa)

Advertisements

2 thoughts on “Made in China (Bagian 1) : Ni Hao Xi’an!

  1. wah akhirnya nemu pengalaman juga traveller yang menginap di Bandara Xianyang,

    numpang nanya mbak sebelumnya, apa banyak yang menginap di Departure Hall Xian Xianyang?

    rencananya saya menaiki pesawat Air Asia dengan jadwal yang sama ke Xian, namun karena ada kendala transportasi dan ngirit, jadi berencana untuk menginap di Xian Airport

    1. Aduhh maaf banget mas yudhanugraha… baru dibalas pesannya.. laptop saya ga bisa buka pesan (maklum udah tua), jd baru liat pesannya pas buka dari komputer kampus… waktu itu kami numpang tidur di arrival hall. Di arrival hall sih sepi banget.. cuma beberapa orang yang numpang tidur di situ. Kalau departure hall saya kurang tahu. Mungkin lebih ramai. Yang jelas heater akan dimatikan pas bandara tutup jadi kalau mas-nya datang saat winter, siap2 pakai baju hangat berlapis2 ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s