Pengalaman Pertama Road Trip di Eropa

Setiap orang mempunyai preferensi masing-masing dalam memilih moda transportasi untuk jalan-jalan. Untuk saya, pergi dengan mobil pribadi (road trip) selalu menjadi pilihan utama. Mungkin alasan utamanya karena road trip cenderung lebih murah dibanding moda transportasi lainnya, terutama kalau kita pergi dalam grup dan bisa membagi biaya transportasinya. Kemudahan mobiliasi di tempat tujuan juga menjadi alasan, apalagi transportasi umum di Indonesia masih belum mumpuni.

Terlepas dari penghematan dan kepraktisan, entah kenapa dari dulu saya selalu merasa road trip adalah hal yang menyenangkan. Saya ingat saat kira-kira umur 5 tahun, saya berpikir kenapa pohon terlihat seperti bergerak saat kita di dalam mobil, dan membaca keras-keras semua tulisan di pinggir jalan karena saat itu saya baru bisa membaca. Road trip menjadi tambah menyenangkan waktu baru bisa menyetir, apalagi setelah kerja dan akhirnya punya mobil sendiri.

Banyak orang yang tidak terlalu suka road trip, dan memilih pergi dengan kereta, atau pesawat. Menurut saya sangat wajar, karena road trip (apalagi dengan jarak lebih dari 400km) itu memakan waktu yang lama dan tidak semua orang dapat menikmati menghabiskan waktu di jalan.  Untuk menikmati perjalanan road trip, menurut saya kuncinya adalah orang-orang yang ada di dalam mobil. Kalau yang di dalam mobil orangnya membosankan dan tidak bisa menikmati perjalanan, ya suasananya akan sangat membosankan juga dan perjalanan akan semakin terasa lama.

Nah jadi ceritanya sejak akhir agustus ini saya pindah ke Lund, kota kecil di sebelah selatan Swedia, untuk melanjutkan sekolah. Dari beberapa hal yang ingin dilakukan di tanah Eropa, road trip masuk ke daftar paling atas dan yang paling ditunggu. Sebagai proyek percobaan, saya beberapa waktu yg lalu pergi road trip dengan mobil sewaan dari Lund ke Stockholm bersama-sama teman-teman dari Indonesia.

Bisa ditebak sih pilihan mobil sewaan yang ada kebanyakan varian Volvo, maklum merk lokal. Di Indonesia, Volvo kesannya adalah mobil-mobil mewah yang biasanya dimiliki pejabat jaman dulu, jadi saat mengambil mobil di rental, saya agak-agak penasaran untuk nyoba mobil ini. Semakin seru lagi ternyata mobil yang disewa memiliki fitur standar mobil mewah kalau di Indonesia seperti start/stop engine button, hill assist (yang menahan mobil saat ditanjakan sehingga tidak takut mundur), cruise control (yang menjaga kecepatan mobil stabil tanpa menginjak gas), atau smart stop (yang mematikan mesin saat lampu merah/macet dan menghidupkan kembali saat kita menginjak kopling). Loh kok jadi kayak portal otomotif, ahahaha.

Photo 1

Untuk perjalanan ini kita sewa mobil kapasitas maksimal 5 penumpang, yang kebetulan kita memang pergi berlima. Sebenarnya yang bisa nyetir diantara kita 3 orang dan hanya satu di antara kita yang punya SIM International, dan akhirnya yang menyetir justru yang tidak memiliki SIM International. Tapi anehnya ternyata justru yang punya SIM International ini lah yang nggak boleh nyetir di sini. Nanti kita bahas ya di bawah kenapa tentang ijin mengemudi di Swedia.

Jarak dari Lund ke Stockholm itu sekitar 600km, atau kira-kira sama dengan jarak Jakarta-Yogyakarta. Mungkin tidak sejauh jarak kalau saya road trip pulang kampung Jakarta-Padang (yang kurang lebih 1600km), tapi menurut saya jarak yg lumayan untuk road trip, dan yang pasti pengalaman yang berbeda dengan beberapa road trip saya sebelumnya di Indonesia.

Photo 2

Adaptasi yang pertama kali tentunya adalah posisi menyetir dan jalur yang berbeda dengan di Indonesia. Efeknya biasanya mobil jadi sering mepet di sebelah kanan, dan bingung saat mau masuk jalan persimpangan. Tapi sepertinya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi posisi stir dan jalur yang berbeda. Yang susah itu adalah menyesuaikan budaya menyetir di Indonesia yang menurut saya tidak beradap jika dibandingkan dengan budaya menyetir orang-orang di Swedia, atau budaya menyetir di Eropa pada umumnya.

Contoh budaya yang saya maksud adalah disini orang-orang selalu mendahulukan mobil yang jalan lurus, jadi misalnya kita mau memotong jalan, ya kita benar-benar harus menunggu sampai semua mobil yang lurus lewat. Tentu hal ini sangat berbeda di Jakarta, yang biasanya kita asal ada kesempatan langsung saja memotong jalan dan memaksa orang yang jalan lurus untuk melambat/berhenti untuk memberikan kita jalan. Contoh yang paling terasa lainnya adalah semua orang sangat berhati-hati untuk melewati zebra cross, yang mana mobil pasti langsung berhenti jika ada orang yang berdiri di pinggir zebra cross (walaupun orang itu belum tentu mau menyebrang, dan karena nggak enak akhirnya menyebrang juga – pengalaman pribadi ahahaha).

Photo nyebrang

Perbedaan lainnya yang sangat terasa saat menyetir di Swedia adalah jalananannya sangat mulusss. Road trip terakhir saya di Indonesia itu Jakarta-Semarang, dan pulangnya lewat Pantura. Mungkin jalur Pantura menjelang atau setelah lebaran masih lumayan bagus, namun sayangnya waktu terakhir saya melewati Pantura tidak berdekatan dengan lebaran. Saat itu sepanjang jalan banyak sekali lubang-lubang besar yang cukup membahayakan. Jadi saat kita menyetir, bukannya melihat kendaraan di depan tapi perhatiannya malah ke bawah jalan untuk memastikan agar mobil tidak melintasi lubang. Kagumnya lagi, jalannya bener-bener landai, nggak ada belokan yang curam, dan sepertinya hampir sepanjang jalan antar kota itu dibuat dengan ketinggian yang berbeda sehingga lampu dari mobil lawan arah tidak menyilaukan di saat malam.

Photo 4

Jalur antar kotanya itu kebanyakan ada dua jalur dengan tambahan jalur darurat. Bentuk jalannya seperti jalan tol berbayar di Indonesia, dimana ada pembatas atau taman kecil di antara jalur pergi dan jalur balik. Jadi nggak ada tuh momen-momen kaget karena ada bus/truk/mobil yang ngebut dari lawan arah yang mengambil jalur kita untuk menyalip. Rambu-rambu lalu lintas juga sangat jelas terlihat dan informatif. Uniknya, jika ada percabangan jalan di depan, terkadang rambu jalan hanya memberikan informasi kode jalan (misalnya: E23 lurus, E4 belok kanan), bukannya kota tujuan (misalnya: Depok Lurus, Bogor belok kiri). Hal ini karena jalan-jalan utama antar kota di eropa memiliki kode-kode sendiri, disebut E-Road Network) yang fungsinya sebagai nama jalan.

Photo 5

Disini banyak juga bus-bus dan truk-truk besar yang melintasi jalan-jalan antar kota. Apalagi dengan masuknya Swedia dalam Schengen Area, jalan-jalan antar kota menjadi ramai oleh truk-truk besar lintas Negara di Eropa. Gimana taunya? Kelihatan dari platnya, contohnya ada di gambar bawah ini, huruf “s” setelah lambang Uni Eropa itu adalah kode untuk Swedia, dan yg satu lagi “nl” itu berarti mobil itu dari Belanda. Nah bedanya dengan di Indonesia, saya tidak melihat bus atau truk yang jalannya ugal-ugalan. Kita pun yang biasa menyetir di Indonesia menjadi patuh dengan batas kecepatan yang ada, apalagi karena banyak kamera jalan yang memantau kecepatan. Uniknya, kalau di Indonesia kita ditangkap polisi, kalau disini kamera-kamera jalan itu akan merekam plat foto mobil kita, dan memberikan tagihan tilang kepada pemilik secara otomatis (kalau mobil rental, maka akan ditagihkan oleh rental mobil).

Photo 6

Ijin menyetir di Swedia

Seperti yang tadi disebut di atas, mungkin ada yang bingung, kenapa justru yang tidak memiliki SIM International yang bisa menyetir di Swedia, sedangkan yang memiliki SIM International tidak bisa?

Tiap negara punya beberapa aturan yang berbeda tentang perijinan mengemudi. Kalau membaca aturan terkait ijin mengemudi di Swedia, SIM yang diterbitkan oleh negara lain (tidak disebutkan apakah berstatus SIM international atau SIM biasa) dapat digunakan di Swedia sepanjang orang tersebut terdaftar di Swedia tidak lebih dari satu tahun. Untuk orang yang telah tinggal lebih dari 1 tahun, orang tersebut harus membuat SIM di Swedia. Nah kebetulan teman yang memiliki SIM International ini sudah lebih dari 1 tahun tinggal di Swedia, sehingga dia tidak bisa menyetir di Swedia.

Selain di Swedia, ternyata banyak juga negara-negara lain yang mengijinkan pemegang SIM biasa Indonesia (tidak harus SIM International) untuk digunakan sebagai ijin mengemudi di negara-negara tersebut. Ketentuannya mirip dengan ketentuan di Swedia, sifatnya sementara atau untuk turis, sedang untuk orang yang menetap dalam waktu yang lama tetap harus membuat SIM di negara setempat. Kalau dari riset singkat di internet, sepertinya SIM biasa Indonesia berlaku di Brunei Darussalam, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Jerman, Denmark dan Swedia. Tapi jika ada yang punya informasi lebih terbaru/ingin koreksi/menambahkan mengenai penggunaan SIM biasa di negara lain, mohon berbagi di kolom komentar di bawah ini. (ra).

Advertisements

13 thoughts on “Pengalaman Pertama Road Trip di Eropa

  1. keren yah mobilnya hehehe.. mayan bs sekalian nyobain mobil-mobil yg beda-beda. Kalau aku seh, suka roadtrip kalo ak yang nyetir, dan ada yg bantuin cari jalan. Soalnya kalo gak tau jalan stress.. terus kalau aku jadi penumpang, aku mabok.. hahahahahah……. Ayo kapan roadtrip lagi ran?

  2. Gerry

    Kita pulang dari Semarang lewat Jalur Selatan maaas.. Pantura lagi ancur jalannya…

    Lagi dooonk cerita jalan jalannya…

  3. Janto Marzuki

    Aturan lanlin di Swedia diantaranya, pengendara yang mengendarai kendaraannya di ‘jalan utama’ (bhs Swedia = huvudled9 harus didahulukan. Sedangkan kalau kita berada dipersimpangan jalan dengan status jalannya sama dan bukan huvudled dan tanpa ada tanda kita harus mengalah, aturannya mereka yang datang dari arah kanan yang kita dahulukan. Aturan ini di Swedia disebut ‘hoger regeln’ (atau aturan kanan).
    Sewaktu kita mencari SIM Swedia, aturan2 ini juga masuk ke test mengemudi.

  4. Janto Marzuki

    Sewaktu kita mengendarai kendaraan dan mendekati penyeberangan (zebra cross) kita harus berhati-hati. Aturan lalin di Swedia mengatakan antara lain, bagi penyebrang jalan tetapi bukan kendaraan yang berada di zebra cross tanpa ada lampu ‘bang jo’ untuk tanda penyeberangan apalagi yang bermaksud menyeberang harus kita dahulukan. Dengan kata lain kita pengendara kendaraan harus berhenti. Kalau ada lampu penyeberangan, kalau lampu untuk kita pengendara merah, kita harus berhenti, tidak peduli ada yang mau menyeberang atau tidak. Bagaimana kalau aturan ini kita langgar? Kita akan didenda mahal dan bisa2 SIM kita dicabut, biasanya sampai 1 th.
    Nah, tapi mereka yang bawa sepeda, kalau sepedanya dituntun sewaktu menyeberang di zebra cross, pembawa sepeda disamakan seperti orang biasa yang menyeberang dan aturan diatas berlaku. Tetapi seandainya sepedanya dinaniki dan dipancal, aturan diatas tidak berlaku. Jadi misalnya (tak sengaja tentunya) kita tabrak, si pengendara sepeda yang salah, sebab status orang yang meniki sepedanya adalah suatu kendaraan.

  5. Janto Marzuki

    Di Swedia, lampu sign harus kita gunakan/nyalakan seperti diantaranya mau belok ke kiri maupun kekanan, demikian juga sewaktu kita mau pindahg jalur, termasuk sewaktu kalau kita menyalib.
    Membawa kendaraan di jalan yang terdiri dari beberapa jalur, kita diharuskan berada jalur yang paling kanan atau jalur paling lambat (aturan Swedia memakai jalur kanan seperti di negara2 Eropa lainnya kecuali di Inggris). Baru sewaktu kita mau menyalib pindah ke jalur sebelah kiri. Menyalib kendaraan didepan kita, harus dari sebelah kiri, terkecuali jalan terdiri dari bebarapa jalaur dan max speed dijalan tsb 50km/jam.
    Klackson hanya digunakan sewaktu emergency, tidak untuk tanda mau menyalib. Di Swedia kalau kita membunyikan klackson seakan kita bersumpah srapah atau menghujat dan ini tidak sopan sekali.

  6. Janto Marzuki

    Kalau kita lihat digambar ada tanda jalan Eropa (E22 dan E4) didalam kotak hijau, artinya anda masih berada dijalan lokal dan kalau kita ikuti jalan tsb akan kita temukan jalan utama (huvudled) dan jaan toll tapi kalau di Swedia gratis atau tidak bayar. Jalan toll atau jalan Eropa dengan tanda hruf E didepannya, selalu ditandai dalm kotak warna hijau.
    Jalan toll di Swedia tidak dibangun hanya landai/datar dan hanya lurus berkilometer seperti di USA tetapi sengaja cenderung setelah beberapa km dibuat berbelok dan turun naik. Kenapa? Ini untuk segi keselamatan, agak kita gampang terlena sewaktu mengendarai kendaraan kita. Lagi2 untuk mengurangi kecelakaan, jalan2 di Swedia pada umumnya yang dibolehkan jalan lebih dari 90km/jam selalu ada penyekat jalan dan menjadikan kita hanya jalan searah. Bisa berbetuk pager berbentuk kabel bisa berbentuk seperti taman.
    Mengendarai kendaraan tidak siang tidak malam ampu kendaraan harus kita nyalakan. Mengapa? Lagi2 ini untuk keselamatan, disampaing gampang menandai kalau itu kendaraan juga dengan kendaraan yang lampunya menyala berarti kendaraan itu ada yang mengemudikannya. Kenapa lampu kendaraan di Swedia tidak menjadi kita yang berpapasan silau? Dikarenakan mobil atau kendaraan di Swedia yang berumur lebih dari 3 th diharuskan lolos kir dan ketinggian sorotan lampu tidak boleh terlalu tinggi maupun tidak boleh terlalu rendah. Sedangkan kendaraan yang umurnya kurang dari 3 th, dianggap masih mobil baru dan ini menjadi tanggung jawab toko mobil (asuransi mobil baru).

  7. Janto Marzuki

    SIM Asia yang bisa langsung ditukar ke SIM Swedia adalah SIM negara Jepang. Kenapa? Dikarenakan untuk mendapatkan SIM Jepang diperlukan ketrampilan mengendarai kendaraan benar2 teruji, demikian juga kebisaan mengerti dan memahami semua aturan mengendarai kendaraan. Mendapatkan SIM di Jepnag tidak bisa dengan cara ‘membeli’.
    Untuk mendapatkan (lulus ujian) SIM Swedia susah dan relatif mahal.

  8. Janto Marzuki

    Ehem jalan yang bolong2 dan ketika kita melaluinya dengan kendaraan dan kemudian sampai kejeglong dan terjadi kerusakan di kendaraan kita, PU setempat bisa kita tuntut dan mengganti ganti kerusakan kendaraan kita. Karena itu PU disana benar2 me-maintenance jalan2 serta rambu2 jalan yang ada diantaranya jalan2 disetiap musim semi banyak jalan2 yang rusak akibat musim dingin, perlu diaspal kembali. Demikian juga rambu2 jalan yang tertutup pepohonan, itu pohon dan ranting akan dipotong/tebas. Reklame disepanjang jalan dilarang, kalau ada yang melanggar dan berani memasang papan reklame, perusahaan tsb akan didenda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s