Padang dan Sekitaran

Bro! Mesti banget ya, begitu nyampe Padang langsung makan!? Tapi emang dasar kami tukang makan, sebelum menyambangi rumah host kami, mampirlah kami di warung es durian. Rencana awalnya sih nemenin salah satu rombongan ngambil uang di ATM, tapi karena di dekat ATM ada warung es Duren dan udah buka, jadilah kami mampir (emang lemah imannya kalau soal makanan, hehe).

DSCF6215Es Durennya Uda? Uni?

Setelah overcoming kesiyokan berita tentang rombongan Gerry (yang terdiri dari Gerry, Isan dan Randoy) yang ketinggalan pesawat, kami mulai explore kota Padang. Diawali dari makan es durian di dekat mesin ATM, dilanjutkan dengan mencari gereja supaya Feliks dan Dita bisa sembahyang dulu (berhubung saat itu hari minggu). Tapi ternyata misa-nya udah mulai dan yang berikutnya masih lama lagi mulainya, akhirnya mereka berdua ga jadi ke gereja dan kita langsung meluncur ke rumah om-nya Gerry, host kami.

Rumah om-nya Gerry terletak di pinggiran kota Padang. Dalam perjalanan ke sana, kami menjumpai sawah di kiri-kanan jalan. Jalanannya sendiri pun sempit, hanya muat untuk 1 mobil. Beruntung kami dapat supir (sebut saja namanya “Uda”) yang tokcer yang begitu handalnya membawa mobil sehingga kami sampai dengan cepat dan selamat di rumah om-nya Gerry.

Om-nya Gerry punya pabrik produksi beras. Kami diajak melihat-lihat pabriknya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di dekat pabrik ada tanah lapang yang luas dan ada sawah juga. Banyak anak kecil yang bermain di sekitar pabrik. Sambil berbincang-bincang dengan keluarga Gerry (padahal Gerry-nya gak ada) kami makan siang di bale-bale di samping pabrik. Setelah menaruh barang , kami pamit untuk melihat-lihat kota Padang.

Suasana di Pabrik Beras.

DSCF6227

DSCF6226

DSCF6235

Kota Padang didominasi oleh bangunan dengan arsitektur rumah gadang (rumah adat Minangkabau) yang atapnya runcing menyerupai tanduk kerbau. Tahukah teman-teman asal-usul kata “Minangkabau”?

Kata Minangkabau merupakan gabungan 2 kata yaitu minang yang artinya “menang” dan kabau yang artinya “kerbau”.  Alkisah terjadi suatu perselisihan antara kerajaan ini dengan seorang Pangeran dari Jawa yang meminta pengakuan kekuasaan di Sumatera. Demi menghindari peperangan, rakyat menganjurkan agar dilakukan pertandingan adu kerbau diantara kedua pihak. Pangeran Jawa tersebut setuju dan memamerkan seekor kerbau yang besar dan ganas. Sementara rakyat setempat hanya memamerkan seekor anak kerbau yang lapar (tetapi tanduknya telah ditajamkan) sehingga membuat Pangeran Jawa tertawa. Pada saat adu kerbau dilakukan, anak kerbau yang kelaparan dengan tidak sengaja menyeruduk tanduknya di perut kerbau besar dan ganas karena ingin mencari puting susu untuk menghilangkan lapar di perutnya. Kerbau besar itupun mati dan rakyat berhasil menyelesaikan perselisihan tanpa peperangan. Sejak itulah namanya menjadi Minangkabau yang artinya menang kerbau.

Anyway, back to our journey, tidak ada tempat spesifik yang ingin kami kunjungi di kota Padangnya sendiri sehingga kami main ke luar kota Padang. Pertama-tama Uda membawa kami ke Pantai Carocok-Painan yang ternyata dilewati oleh rute Tour de Singkarak.

DSCF6249

DSCF6256

Selanjutnya kami dibawa naik ke atas bukit untuk melihat pemandangan dari atas. Pemandangan yang terlihat dari atas bukit sungguh indah. Perpaduan cantik antara teluk, hijaunya pepohonan dan laut yang biru dan tenang serta langit yang cerah.

148401_10151137538761935_1765819455_n

293789_10151137544311935_1053032070_nSetelah puas mengagumi keindahannya dan foto-foto bersama, kami beranjak ke tempat lain.

Waktu itu masih agak sore, sehingga menurut kami masih terlalu cepat untuk kembali ke kota Padang. Uda membawa kami ke spot bukit lainnya yang disebut bukit Mandeh. Perjalanan ke bukit Mandeh dari Pantai Carocok-Painan lumayan jauh. Di perjalanan kami bertemu monyet, arak-arakan pengantin, dan jembatan reyot yang menyeramkan untuk dilewati sebuah mobil.

DSCF6237Ketemu saudara di jalan, gak sopan kalau gak salam.

8761_10151137549226935_513215967_nIkutan ngarak pengantin. Semoga menjadi keluarga samara ya!

12806_10151137550516935_981316942_nJembatan reyot. Ganggu banget!

Effortnya luar biasa ketika melewati jembatan reyot itu. Saking jeleknya jembatan itu, kami khawatir mobilnya tidak bisa lewat dan kami sempat bertanya apa bukitnya masih jauh jika kami harus berjalan kaki. Mengingat waktu itu sudah cukup sore juga dan apakah perjalanan ke bukit akan sepadan dengan sunset yang mau kami kejar.

Ternyata Uda kami yang handal menyetir mobil, tidak sampai hati membiarkan kami berjalan kaki menuju bukit Mandeh. Dia menyuruh kami semua turun dari mobil dan mengambil resiko menyeberangi jembatan reyot tersebut dengan mobil sewaan kami tersebut sendirian! Luar biasa! Sambil cemas memperhatikan Uda membawa mobil melewati jembatan, kami berdoa supaya mobilnya bisa lewat dengan selamat.

Untungnya mobil berhasil melewati jembatan reyot tersebut dengan selamat. Kami pun kembali naik ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke bukit Mandeh yang ternyata masih jauh kalau harus dilalui dengan berjalan kaki. Sesampainya di atas bukit, kami tercengang dengan pemandangan di depan kami. Sungguh begitu indah alam yang Tuhan ciptakan untuk Indonesia. We came just in time ketika sunset. Semburat oranye terlihat di langit, lautnya bersih dan cantik, semilir angin membuai kami ketika mengagumi keindahan alam di hadapan kami.

575834_10150958898197280_1773540696_nMembuat kami berpikir, “…ah pasti asik duduk disini sambil minum es kelapa”. Sayangnya tidak ada apapun di bukit Mandeh itu kecuali pemandangan yang spektakuler.

DSCF6276

282315_10150958898767280_409105284_nReady…. set…..

250979_10150958901967280_1962645122_nGO! (Foto yang diambil oleh Uda).

Setelah puas foto-foto, hari juga sudah malam, kami memutuskan kembali ke kota Padang. Dalam perjalanan pulang dengan perasaan senang berhasil melihat dan foto-foto sunset yang indah, kami berpikir sayang sekali akses ke bukit Mandeh ini masih sulit dengan adanya jembatan reyot tadi. Apa saja yang dilakukan oleh Pemda setempat, ada jembatan reyot begitu kok bukannya dibetulkan, padahal ada objek wisata cantik di balik jembatan reyot ini. Entah apa sekarang jembatannya sudah dibetulkan atau belum (kami ke sana tahun 2012).

Kembali di kota Padang sekitar jam 7-an malam, kami tidak mau pulang dengan perut kosong. Mampirlah kami ke restoran setempat yang menyediakan menu masakan Padang. Selain restoran bagus, ternyata banyak lapak di pinggir jalan yang menyediakan menu masakan Padang dan menurut host kami, justru yang enak adalah masakan di lapak-lapak tersebut dibandingkan dengan yang di restoran. Selain makan masakan Padang, dalam perjalanan kembali ke rumah host kami, kami melewati warung martabak kubang sehingga kami mampir untuk mencicipinya.

DSCF6293Berbeda dari martabak telur yang biasa ditemui di Jakarta, martabak yang kami makan ini kaya rempah, padat dan gurih. Enak deh pokoknya! Sayang tidak ada fotonya. Setelah makan martabak, kami kembali ke rumah host kami. (npa).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s